Jumat, 14 Maret 2014

Tafsir Tentang Manusia By Nawawi


BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Manusia dalam bukunya Man the Unknown, Dr. A. Carrel menjelaskan tentang kesukaran yang dihadapi untuk mengetahui hakikat manusla. Dia mengatakan babwa pengetahuan tentang makhluk-makhluk hidup secara umum dan manusia khususnya belum lagi mencapai kemajuan seperti yang telah dicapai dalam bidang Ilmu pengetahuan Iainnya. Selanjutnya la menulis:
Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang sangat besar untuk mengetahui dirinya, kendatipun kita memiliki perbendaharaan yang cukup banyak dan hasil peneiltian para ilmuwan, filosof, sastrawan, dan para ahli di bidang keruhanian sepanjang masa ini. Tapi kita (manusia) hanya mampu mengetahui beberapa segi tertentu dari diri kita. Kita tidak mengetahui manusia secara utuh. Yang kita ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari bagian-bagian tertentu, dan ini pun pada hakikatnya dibagi lagi menurut tata cara kita sendiri. Pada hakikatnya, kebanyakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mereka yang mempelari manusia kepada diri mereka hingga kini maslh tetap tanpa jawaban.
Keterbatasan pengetahuan manusla tentang dirinya itu disebabkan oleh:
  1. Pembahasan tentang masalah manusla terlambat
karena pada mulanya perhatian manusia
penyelidikan tentang alam materi. Pada zaman primitif, nenek moyang kita disibukkan untuk menundukkan atau menjinakkan alam sekitarnya, seperti upaya membuat senjata-senjata melawan binatang-binatang buas, penemuan api, pertanian, peternakan, dan sebagainya. Sehingga mereka tidak mempunyai waktu luang untuk memikirkan diri mereka sebagai manusia. Demikian pula halnya pada zaman kebangkitan (Renaisans) ketika para ahli digiurkan oleh penemuan-penemuan baru mereka yang disamping menghasilkan keuntungan material, juga menyesampingkan publik secara umum karena penemuan-penemuan tersebut mempermudah dan mempermudah kehidupan ini.
  1. Ciri khas akal manusia yang lebih cenderung memikirkan hal-hal yang tidak kompleks. Ini disebabkan oleh sifat akal kita seperti yang dinyatakan oleh Bergson tidak mampu mengetahui hakikat hidup.
  2. Multikompleksnya masalah manusia.
Dari penjelasan diatas, agamawan dapat berkomentar bahwa pengetahuan tentang manusia demikian itu disebabkan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang dalam unsur penciptaanya diberi pengetahuan tentang ruh, kecuali sedikit (QS Al-Isra' [17]; 85).[1]
Untuk maksud tersebut tentu tidak cukup dengan hanya merujuk kepada satu dua ayat, tetapi seharusnya merujuk kepada semua ayat Al-Quran (atau paling tidak ayat-ayat pokok). Ayat-ayat di bawah ini akan dibahas beberapa tafsiran dengan tema tentang manusia dalam perspektif mufassir Al-Quran.

  1. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana Kandungan Al-Baqarah Ayat 286 ?
  2. Bagaimana Kandungan Ali imran Ayat 14 ?
  3. Bagaimana Kandungan Surat Ar-Rum Ayat 20 ?
  4. Bagaimana Kandungan Surat Ar-Rum Ayat 30 ?

  1. Tujuan Pembahasan
  1. Mengetahui Kandungan Al-Baqarah Ayat 286.
  2. Mengetahui Kandungan Ali imran Ayat 14.
  3. Mengetahui Kandungan Surat Ar-Rum Ayat 20.
  4. Mengetahui Kandungan Surat Ar-Rum Ayat 30.



BAB II
PEMBAHASAN
  1. Kandungan Surat Al-Baqarah Ayat 286
Ÿw ß#Ïk=s3ムª!$# $²¡øÿtR žwÎ) $ygyèóãr 4 $ygs9 $tB ôMt6|¡x. $pköŽn=tãur $tB ôMt6|¡tFø.$# 3 $oY­/u Ÿw !$tRõÏ{#xsè? bÎ) !$uZŠÅ¡®S ÷rr& $tRù'sÜ÷zr& 4 $oY­/u Ÿwur ö@ÏJóss? !$uZøŠn=tã #\ô¹Î) $yJx. ¼çmtFù=yJym n?tã šúïÏ%©!$# `ÏB $uZÎ=ö6s% 4 $uZ­/u Ÿwur $oYù=ÏdJysè? $tB Ÿw sps%$sÛ $oYs9 ¾ÏmÎ/ ( ß#ôã$#ur $¨Ytã öÏÿøî$#ur $oYs9 !$uZôJymö$#ur 4 |MRr& $uZ9s9öqtB $tRöÝÁR$$sù n?tã ÏQöqs)ø9$# šúï͍Ïÿ»x6ø9$# ÇËÑÏÈ  
286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir."
#Ïk=s3ム               : merupakan fiil mudhori mabni fail dari fiil madhi كلف yang bermakna membebani (Tugas, Beban berat).[2]
Mt6|¡x.               : merupakan fiil madhi mabni fail muttasil bidhomir rofa’ ta’ muannatsah ghoibah asluhu كسب bidhommiri huwa muqoddar yang bermakna memperoleh,[3]
ps%$sÛ                 : merupakan ism mashdar dari fiil madhi طاق. Sedangkan maknanya adalah mampu, kuat, kuasa.[4]
            Para Mufasirin sepakat bahwa lafadz $ygyèóãr dalam surat Al-Baqarah ini bermakna seperti halnya lafadz طاقتها[5] sehingga kata tersebut dimaknai dengan mampu, kuat, kuasa.
            Dalam tatanan kehidupan pasti terdapat suatu perkara yang tidak bisa dipisahkan dengan manusia. Perkara tersebut yang biasa disebut dengan masalah (problem), kadang suatu problem muncul tiba-tiba kapanpun dan dimanapun kita berada. Berbagai masalahpun kadang-kadang memParasit kesabaran kita sehingga berakibat tingkah negatif, namun kadang justru hadirnya problem dalam suatu kehidupan menjadi batu loncatan untuk meraih hasil positif, hal ini disebabkan mereka tahu bahwa masalah pasti bisa diselesaikan seperti halnya Angin Berlalu, sebab Allah tidak memberatkan manusia dari amal(perbuatan) melainkan sesuai dengan kemampuanya.[6] Hal ini senada dengan penjelasan dari Ibnu ‘Abbas:
3080 حدثنا أبى ، ثنا أبو صالح ، حدثنا معاويه بن صالح ، عن علي بن أبي طلحة ، عن ابن عباس ، في قوله ، لا يكلف الله نفسا الا وسعها قال : هم المؤمنون ، وسع الله عليهم امر دينهم فقال الله ما جعل عليكم في الدين من حرج و قال : يريد الله بكم اليسر و لا يريد بكم العسر و قال : فاتقوا الله ما استطعتم[7]
Ibnu Abbas meriwayatkan khabar firman Allah, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Beliau berpendapat, yang dimaksud seseorang diatas adalah orang-orang mu’minin, Allah meluaskan bagi orang mu’min perkara agama mereka, Allah berfirman Allah tidak menjadikan bagi kamu semua kesempitan dalam urusan agama, Allah berfirman: Allah menginginkan kemudahan bagimu dan tidak menginginkan kesulitan bagimu, dan Allah berfirman: bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai kemampuanmu.
Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang telah diturunkan kepadanya dari Tuhanya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Dan Rasul-Rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari Rasul-Rasul-Nya dan mereka mengatakan “kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, ampunilah kami, dan kepada Engkaulah tempat kami kembali.”(285)
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dan (kebajikan) yang diusahakannva Dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami khilaf. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (286).[8]
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Jabir, dia berkata (459), “Tatkala ayat Rasul telah beriman... dan kepada Engkaulah tempat kami kembali itu diturunkan kepada Rasulullah saw., maka Jibril berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah memujimu dan umatmu dengan pujian yang baik, maka mintalah kepada-Nya niscaya Dia memberi. Maka beliau meminta, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupanya...”  hingga akhir ayat ini.
Firman Allah Ta’ala, “Allah tidak membebani seseorang  melainkan sesuai dengan kesanggupanya.” Maksudnya, Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuanya. Hal ini merupakan kelembutan dan kebaikan Allah kepada hamba-Nya. Ayat inilah yang menasakh dan menghapuskan ayat  yang menimbulkan kepanikan para sahabat, yaitu ayat, “Apabila kamu menampakkan atau menyembunyikan apa yang ada pada dirimu, maka Allah akan memperhitungkannya.”Yakni,meskipun Allah memperhitungkan dan meminta pertanggung  jawaban,  namun Dia tidak akan mengazab kecuali menurut  kapasitas yang dapat diberikan oleh individu. Dan, kebencian kepada bisikan buruk merupakan keimanan.
Firman Allah Ta’a, “Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakanya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya“ itulah konsekuensi dari  taklif. Kemudian Allah Ta’ala berfirman sebagai bimbingan  kepada hamba-Nya ihwal cara memohon kepada-Nya, “Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau kami khilaf."[9]
Yakni jika kami meninggalkan kewajiban atau melakukan perbuatan haram karena lupa, Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda (460), sesunggguhnya Allah menghapuskan dosa umatku yang di timbulkan karena kesalahan, lupa, atau dipaksa. Hadits yang sama  diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban, Auza'i, dan Thabrani
ان الله تجاوز لامتي عن ثلاث ، عن الخطاء و النسيان و الاستكراه : قال أبو بكر : فذكرت ذلك للحسن فقال : اجل ، ما تقرا بذلك قرانا ؟ ربنا لا تؤاخذنا ان نسينا أو اخطانا (رواه ابن أبي تم)
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ummu Darda', dari Nabi saw. Beliau bersabda (461,) “Sesungguhnya Allah memaafkan kesalahan umatku  tiga Perkara: Kesalahan yang  tidak disengaja, lupa, dan dipaksa, “(HR Ibnu Abi Hatim).[10]
Firman Allah Ta’ala, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami".  Maksudnya, janganlah Engkau membebankan kepada kami amal-amal yang berat, meskipun kami sanggup melakukannya, seperti amal yang telah Engkau syariatkan kepada umat-umat terdahulu sebelum kami, Seperti rantai dan belennggu yang mengikat mereka. Dan, engkau telah mengutus Nabi-Mu sebagai nabi rahmat, dengan dibebaskannya beban berat tersebut.
Dalam Shahih Muslim ditegaskan dari Ibnu Hurairah, dari Rasulullah saw. Bahwa belliau bersabda (463), "Allah berfirman, 'Ya Aku telah melakukannya.'"[11]
Dalam sebuah hadits yang diterima melalui berbagai jalan dari Rasulullah, bahwasanya beliau bersabda (464), "saya diutus membawa agama hanif yang toleran." Firman Allah, "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya," berupa kewajiban, musibah, dan cobaan. Janganlah engkau menguji kami dengan sesuatu yang tak dapat kami tahan. Firman Allah, "Maafkanlah kami" dari kesalahan yang ada antara kami  dan engkau serta keteledoran dan kekhilafan kami yang Kau-ketahui. "Ampunilah kami” atas kesalahan yang terjadi diantara kami. janganlah Kau-perlihatkan kejelekan dan keburukan kami kepada orang lain. "Dan Rahmatilah kami" Dengan sesuatu yang berhak kamidan janganlah Kau jerumuskan kami ke dosa lain. Karenannya, ulama, mengatakan, pelaku dosa memerlukan tiga perkara: ampunan Allah atas dosa yang ada antara dia dan Tuhannya, Perahasiaan kesalahan dari orang lain dan tidak dipertontonkan kepada mereka, dan pemeliharaan agar dia tak terjerumus ke dalam dosa yang sama. telah dikemukakan dua hadits yang menyatakan bahwa Allah telah menyetujui dan mengabulkan doa tersebut.
Firman Allah, “Engkaulah penolong kami,” Engkaulah Pelindung kami dan Pembantu kami. Kepada Engkaulah kami bertawakal. Engkaulah tempat meminta pertolongan dan penyerahan diri. Tiada daya dan upaya melainkan atas pertolongan-Mu. “Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” yang mengingkari agama-Mu,keesaan -Mu, dan risalah Nabi-MU. Mereka malah menyembah selain- Mu. Maka tolonglah kami untuk mengaIahkan mereka. Jadikanlah kami sebagai penghukum mereka di dunia dan akhirat. Maka Allah mengiyakan doa itu. Bahkan dalam hadits Muslim dari lbnu Abbas, Allah menyakan, “Aku telah melakukannya.
Ibnu jarir meriwayatkan dari Muadz  bin Jabal bahwa, apabila dia selesai membaca surat "maka tolonglah kami untuk mengalahkan kaum kafir", dia berkata "amin". Waki' juga meriwayatkan bahwa apabila Muadz selesai membaca surat al-Baqarah, maka dia mengatakan "amin".[12]

  1. Kandungan Surat  Ali imran Ayat 14
z`Îiƒã Ĩ$¨Z=Ï9 =ãm ÏNºuqyg¤±9$# šÆÏB Ïä!$|¡ÏiY9$# tûüÏZt6ø9$#ur ÎŽÏÜ»oYs)ø9$#ur ÍotsÜZs)ßJø9$# šÆÏB É=yd©%!$# ÏpžÒÏÿø9$#ur È@øyø9$#ur ÏptB§q|¡ßJø9$# ÉO»yè÷RF{$#ur Ï^öysø9$#ur 3 šÏ9ºsŒ ßì»tFtB Ío4quysø9$# $u÷R9$# ( ª!$#ur ¼çnyYÏã ÚÆó¡ãm É>$t«yJø9$# ÇÊÍÈ  
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
`Îiƒã                  : merupakan fiil madhi mabni maf’ul yang asalnya berupa lafadz زين yang bermakna menghiasi, mempercantik.[13]
ûüÏZt6ø9$#u              : merupakan bentuk jamak dari lafadz ابن dari fiil madhi berupa lafadz بنى yang bermakna Anak.[14]
Allah Ta'ala memberitahukan berbagai jenis kelezatan yang dijadikan indah bagi manusia dalam kehidupan dunia, yaitu wanita dan anak-anak. Allah memulai dengan wanita karena ia merupakan fitnah paling berat. dalam kitab sahih ditegaskan bahwa Rasulullah saw bersabda (476)
ما تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.
“tiada aku tinggalkan fitnah, yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada (fitnab) wanita.”
Jika keinginan terhadap wanita itu ditujukan untuk menjaga kesucian dan memperoleh anak yang banyak, maka hal demikian bahkan diharapkan, disukai. dan disunnahkan. Rasulullah saw. bersabda (477),
الدنيا متاع وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة إن نظر إليها سرته وإن مرها أطاعته وإن غغاب عنها  حفظته في نفسها
“Dunia merupakan harta benda, dan harta benda yang paling baik adalah wanita yang salehah. Jika dipandang, ia menyenangkannya,  jika di suruh ia taat, jika ditinggal pergi ia menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya" Nabi saw. bersabda (478),

تزوجوا الودود الولود فإني مكاثر بكم الأمم يوم القيامة
“Kawinilah wanita yang mencintai kamu dan mampu beranak (subur) karena aku akan membangggakan kamu sebagai umat terbanyak pada hari kiamat”
Demikian pula dengan harta kekayaan. Kadang ia ditujukan untuk kemegahan dan kesombongan. Hal demikian dicela. Dan kadang-kadang harta pun ditujukan untuk diinfakkan kepada karib kerabat, sarana silaturahmi, dan untuk berbagai tujuan baik lainnya. Harta demikian dipuji dan disanjung secara syara’. Para mufassir berikhtilaf mengenai kadar qinthar. Namun, singkatnya qinthar berartiharta yang banyak. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Anas dari Rasulullah saw.berkaitan dengan kata qinthar, katanya (479), “Harta senilai seribu dinar.”
Cinta kepada kuda dapat dibagi tiga. Pertama, cinta kepada kuda untuk digunakan dalam berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berniat demikian, maka ia diberi pahala. Kedua, kuda untuk tujuan kebanggaan dan kemegahan Bagi umat Islam. Orang yang memilikinya berdosa, namun muslim lainya tidak. Dan ketiga,  memelihara kuda untuk tujuan pemeliharaan dan pemilikan keturunannya, dan dalam  melakukannya ia tidak melupakan hak Allah yang ada pada kuda. Kecintaan demikian dapat menutupi aib pemiliknya.[15]
Maksudnya Musawwamah ialah kuda yang  yang pada dahinya atau pergelangan kakinya ada warna  putih. Dan ada pula pendapat lainnya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Suwaid bin Hubairah, dari Nabi saw. (480),

خير مال امرىء له مهرة مأمورة أو سكة مأبورة
Sebaik-baik harta seseorang ialah kuda (keledai) yang banyak beranak dan pohonn kurma unggul yang berbuah lebat." (HR Ahmad)
Firman Allah "binatang ternak" seperti unta, sapi, dan kambing. "Dan sawah ladang" yakni tanah yang digunakan untuk bercocok tanam. Kemudian Allah Ta'ala berfirman, "Itulah kesenangan kehidupan dunia," yakni sesungguhnya ini merupakan kembang kehidupan dunia dan keindahannya yang fana dan cepat sirna. "Dan pada sisi Allahlah tempat kembali yang baik," yakni tempat kembali dan pahala yang baik.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Umar bin Khaththab demikian: Setelah ayat "dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada yang diinginkan " ini turun Umar berkata, "Ya Tuhanku, tanggguhkan keindahannya bagi kami." maka diturunkan ayat, "Katakanlah, Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Katakanlah, hai Muhammad, kepada manusia, "Aku akan memberitahukan kepadamu perkara yang lebih baik darpadai yang dijadikan indah bagi manusia dalam kehidupan dunia ini berupa kenikmatan yang pasti cepat sirna." Kemudian Allah memberitahukan, bagi orang-orang yanng bertakwa, pada sisi Tuhannnya ada surga yang mengalir banyak sungai yang berisi bermmacam-macam jenis minuman, seperti madu, susu, khamar, air segar dan sebagainnya yang belum dilihat mmata, didengar teliinga, dan belum pernah terpikirkan keadaanya oleh seoranng manusiapun. "Sedang mereka kekal di dalamnya," yakni menetap di dalamnya untuk selama-lamanya.
"Dan istri-istri yang disucikan” dari kotoran, haid,dan nifas. “Dan keridhaan Allah.” Maksudnya, keridhaan Allah menyelimuti mereka. Sesudah itu, Dia tidak akan murka lagi kepada mereka untuk selarnanya. Hal ini seperti firman Allah, “Dan keridhaan Allah itu lebih besar” nilainya daripada kenikmatan abadi yang diberikan kepada mereka. Kemudian Allah berfirman, “Dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” Artinya, setiap individu diberi bagian yang sesuai dengan haknya masing-masing.[16]
Ketika al-Qur’an mengakui dan menegaskan adanya kecintaan kepada syahwat-syahwat itu, atau dengan kata lain dorongan-dorongan untuk melakukan aktivitas kerja, maka dorongan itu harus lebih besar yakni memperoleh apa yang berada di sisi Allah. Karena itu, ayat di atas diakhiri dengan pernyataan wallahu indahu khusnul ma’ab (di sisi Allah terdapat kesudahan yang baik).
Sekali lagi, kalau syahwat di atas digunakan sebagaiman digariskan oleh Allah swt serta sesuai tujuan Nya memperindah, maka semuanya disebut di atas adalah baik. Yang mencintai lawan seksnya, bahkan melakukan hubungan seks demi memelihara diri dan memperoleh keturunan, bukan saja tidak berdosa tapi malah mendapat pahala.
Kalau yang memeperindahnya adalah setan, maka syahwat-syahwat tersebut menjadi tujuan. Ia diupayakan dan dimanfaatkan untuk tujuan di sini dan sekarang, di dunia ini, bukan di akhirat kelak. Misalnya jika setan memperindah kecintaan pada seks, maka sudah tidak memandang lagi sebagai tujuan, yang penting melampiaskan walaupun dengan cara kotor. Hal inilah yang tidak dikendaki oleh Allah dan bukan itu tujuan Allah memperindah syahwat untuk manusia.[17]
C.    Kandungan Surat Ar-Rum Ayat 20
ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& Nä3s)n=s{ `ÏiB 5>#tè? ¢OèO !#sŒÎ) OçFRr& ֍t±o0 šcrçŽÅ³tFZs? ÇËÉÈ  
20. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.

֍t±o0              : merupakan ism mashdar yang diambil dari fiil madhi berupa lafadz بشر yang bermakna menngupas, memerhatikan, merasa senang.[18] Namun yang sesuai dengan konteks ini yaitu bermakna manusia.[19]
                Allah ta’ala berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya” yang menunjukkan kepada kebesaran dan kesempurnaan kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bapak kamu Adam dari tanah,”kemudian tiba-tiba kamu menjadi manusia yang berkembang biak.” Jadi asal-muasalmu dari tanah, kemudian dari air yang hina (mani), kemudian berevolusi menjadi segiumpal darah, menjadi segumpal daging, dan menjadi tulang yang kemudian tulang-tulang itu dibunngkus dengan daging, kemudian ditiupkan ke dalamnya ruh sehingga dia menjadi makhluk yang dapat mendengar dan melihat. Kemudian dia lahir sebagai makhluk kecil yang lemah. Kemudian kekuatannya menjadi sempurna sehingga dia dapat membangun kota, benteng, dan merambah di berbagai wilayah bumi baik di daratan maupun di lautan dalam rangka mencari rezeki. Dia memiliki pemahaman, pikiran dan ilmu pengetahuan mengenai persoalan dunia  dan Akhirat. Maka Mahasuci Yang menakdirkan, memperjalankan, dan memungkikan mereka bekerja dalam berbagai bentuk mata pencaharian. Diantara mereka terdapat perbedaan daalam hal postur, ilmu pengetahuan, kelapangan, dan kesulitan.[20]
ôs)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ   §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR Îû 9#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ   ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜZ9$# Zps)n=tæ $uZø)n=ysù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=ysù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒø:$# ÇÊÍÈ  
12. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
13. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
14. kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
Di dalam ayat-ayat itu jelas terlihat bahwa Tuhan menciptakan manusia tidak sekaligus, melainkan secara berevolusi mulai dari saripati tanah, terus nutfah, darah, daging, akhirnya menjadi manusia yang utuh setelah itu baru ditiupkan ruh. Kesimpulan ini di dukung oleh firman Allah di dalam surat Nuh ayat 14: ôs%ur ö/ä3s)n=s{ #·#uqôÛr& (Dan sesungguhnya Dia (Allah) telah menciptakan kamu dengan berevolusi).[21]
Firman Allah Ta’ala, “kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.” Bisa diartikan berkembang biak, akibat hubungan seks atau bertebaran mencari rezeki. Kedua hal ini tidak dilakukan oleh manusia kecuali oleh orang yang memiliki kedewasaan dan tanggung jawab.[22]

D.    Kandungan Surat Ar-Rum Ayat 30

 óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ      
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

$ZÿÏZym          merupakan ism fail dari fiil madhi حنف yang bermakna yang lurus.[23]
Allah Ta'ala berfirman, luruskanlah wajahmu  dan senantiasa tetaplah di dalam agamamu, yaitu agama Ibrahim yang hanif, agama yang ditunjukkan Allah kepadamu, serta disempurnakannya bagimu dengan sesempurna mungkin. Di sampiing itu, tetap teguhlah kamu di dalam fitrahmu yang baik. Allah telah menciptakan makhluk di atas fitrah itu. Karena sesungguhnya Allah ta'ala telah menciptakan manusia dalam  keadaan memiliki potensi untuk mengetahui Nya, mengesakan Nya, dan mengakui bahwa tidak ada tuhan melainkan Dia. Hal ini telah dikemukakan tatkala menafsirkan ayat "Dan Allah mengambil kesaksian mereka atas diri mereka sendiri, 'bukankah aku Tuhanmu? Mereka menjawab, Benar.' " (Al-A'raf: 172)

إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِيَ حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، فَاجْتَالَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ  عَنْ دِينِهِمْ

"Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (suci) Kemudian setan-setan menggelincirkan mereka dari agama mereka"[24]
Secara umum kata fitrah digunakan untuk penciptaan awal. Firah manusia adalah kejadianya sejak semula atau bawaan sejak lahirnya. Adapun fitrah dalam pengertian khusus menurut agama (Islam) adalah sebagaimaan diisyaratkan Allah dalam QS. Al-a’raf: 172 dan dijelaskan pada QS. Ar-Rum: 30 di atas. Yang pertama mengisyaratkan bahwa manusia sejak awal kejadianya telah membawa fitrah al-tauhid (berketuhanan Yang Maha Esa). Sedang yang kedua menjelaskan manusia itu pada dasarnya diciptakan dalam keadaan hanif (membawa potensi agama yang lurus) yang disebut fitratallah, yakni agama yang berdasarkan pada ma’rifat kepada Allah dan mentauhidkan-Nya.[25]
Firman  Allah Ta'ala, "Tidak ada perubahan pada fitrah Allah." tidak ada perubahan atas Dinul islam yang menjadi landasan penciptaan manusia.
Imam Ahmad meriwayatkan bahwa al-Aswad bin Sai'at Taimi berkata,

وغزوت معه فأصبت ظهرا فقتل الناس يومئذ حتى قتلوا الولدان وقال مرة الذرية فبلغ ذلك رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال ما بال أقوام جاوزهم القتل اليوم حتى قتلوا الذرية فقال رجل يا رسول الله إنما هم أولاد المشركين فقال ألا أن خياركم أبناء المشركين ثم قال ألا لا تقتلوا ذرية ألا لا تقتلوا ذرية قال كل نسمة تولد على الفطرة حتى يعرب عنها لسانها فأبواها يهودانها وينصرانها
"Aku menjumpai Rasulullah saw., lalu aku berpegang  bersama beliau. Akupun mendapat kemenangan. Pada saat itu orang orang pergi berperang lalu mereka membunuh anak-anak. Kejadian ini sampai kepada Rasulullah saw., maka beliau bersabda, 'mengapa orang-orang itu melamapaui batas hingga membunuh anak-anak?' seseorang berkata, wahai Rasulullah,bukanah anak-anak itu adalah kaum musyrik? Beliau bersabda, Bukan egitu. Orang-orang yang baik di antara kamu pun semula merupakan anak kaum musyrik. Kemudian beliau memerintahkan, 'jangan membunuh anak-anak! Jangan membunuh  anak-anak! Setiap diri dilahirkan dalam keadaan fitrah, sehinngga lisannya menyimpang dari fitrah itu maka kedua orang  tuanyalah yang menjadikannya yahudi dan nasrani" (HR.Ahmad)
Firman Allah ta'ala, "Itulah agama yang lurus" Berpegang teguh kepada syariat dan fitrah yang selamat merupakan agama yang teguh dan lurus "Namun kebanyakan manusia tidak mengetahui" agama itu. Penggalan ini seperti firman Allah ta'ala, "Dan mayoritas manusia tidaklah beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya."[26]


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 286 dijelaskan bahwa Allah Zat yang Maha Luas dan Maha Pemurah, sebagaimana Dia telah meluaskan Potensi Manusia dengan berbagai masalah yang dihadapi manusia serta memberikan kemudahan kepada manusia atas segala masalah yang diturunkan-Nya yakni Allah mengetahui batas kemampuan manusia secara rinci antara satu dengan yang lainya di seluruh belahan dunia, lalu Allah menurunkan masalah antara satu dengan yang lainnya sesuai dengan takaran-takaran yang di mampui manusia.
Dalam Surat Ali imran Ayat 14 Allah menjadikan manusia mempunyai kesenangan serta memberitahukan tentang perkara-perkara kesenangan di Dunia, jikalau mereka menggunakan kesenangannya sesuai dengan perintah-Nya dan menjauhi Larangan-Nya maka dia akan mendapatkan tempat kembali yang baik (Surga).
Dalam Surat Ar-Rum Ayat 20 Allah menjelaskan bagaimana proses atau tahapan munculnya manusia yakni dari tanah, kemudian dari air yang hina (mani), kemudian berevolusi menjadi segiumpal darah, menjadi segumpal daging, dan menjadi tulang yang kemudian tulang-tulang itu dibunngkus dengan daging, kemudian ditiupkan ke dalamnya ruh sehingga dia menjadi makhluk yang dapat mendengar dan melihat. Kemudian dia lahir sebagai makhluk kecil yang lemah. Kemudian kekuatannya menjadi sempurna sehingga dia dapat membangun kota, benteng, dan merambah di berbagai wilayah bumi baik di daratan maupun di lautan dalam rangka mencari rezeki. Dia memiliki pemahaman, pikiran dan ilmu pengetahuan mengenai persoalan dunia  dan Akhirat. Maka Mahasuci Yang menakdirkan, memperjalankan, dan memungkikan mereka bekerja dalam berbagai bentuk mata pencaharian. Diantara mereka terdapat perbedaan daalam hal postur, ilmu pengetahuan, kelapangan, dan kesulitan. Lalu mereka bertebaran dimuka bumi.
Dalam Surat Ar-Rum Ayat 30 Allah mengingatkan manusia agar selalu di jalan agama yang benar yakni agama Ibrahim yang hanif, lalu Allah juga memberikan pengetahuan pada manusia bahwa terdapat fitrah dalam diri manusia. Secara umum kata fitrah digunakan untuk penciptaan awal. Fitrah manusia adalah kejadianya sejak semula atau bawaan sejak lahirnya.


DAFTAR PUSTAKA

Abi Hatim Arrazi, Ibnu.  tafsir ibn abi hatim juz 2, (Maktabah al’ashriyah, 327H).
Baidan, Nashruddin. Tafsir Maudhu’i, (Yogyakarta: pustaka pelajar, 2001).
http://buntexz.blogspot.com diakses tanggal 12 maret 2014, pukul 07.27.
Maktabah Syamilah, Tafsir Sam’ani Juz 1
Nasib Ar-Rifa’i, Muhamad. RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 1, terj, Syihabuddin, (Depok; Gema Insani, 2006).
Nasib Ar-Rifa’i, Muhamad. RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 3, terj, Syihabbudin,  (Depok; Gema Insani, 2006).
Qurais Shihab, Muhammad. Wawasan Al-Quran; Tafsir Maudhu’i atas pelbagai persoalan umat, (Bandung; Mizan Pustaka, 2007).
Tafsir Sulaiman Bin Makotil, Tafsir Makotil juz 1 (Beirut; Dar Alkitab ‘ulumiah, 2003), h. 154
Warson Munawwir, Ahmad. Kamus Al-Munawwwir, (Surabaya; pustaka progresif, 1997).



[1] Muhammad Qurais Shihab, Wawasan Al-Quran; Tafsir Maudhu’i atas pelbagai persoalan umat, (Bandung; Mizan Pustaka, 2007), h. 278.
[2] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwwir, (Surabaya; pustaka progresif, 1997), h. 1225
[3] Ibid., h. 1206
[4] Ibid., h. 872
[5] Maktabah Syamilah, Tafsir Sam’ani Juz 1, h.288 قوله تعالى : ( لا يكلف الله نفسا إلا وسعها ) أي : طاقتها .
[6] Tafsir Sulaiman Bin Makotil, Tafsir Makotil juz 1 (Beirut; Dar Alkitab ‘ulumiah, 2003), h. 154
[7] Ibnu Abi Hatim Arrazi, tafsir ibn abi hatim juz 2, (Maktabah al’ashriyah, 327H), h. 577
[8] Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 1, terj, Syihabuddin, (Depok; Gema Insani, 2006), h. 473.
[9] Ibid., h. 475.
[10] Ibid., h. 476.
[11] Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 1, h. 476.
[12] Ibid., h. 477.
[13] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir,...., h. 598.
[14] Ibid.,  h. 113
[15]Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 1, ...,h. 491-492.
[16] Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 1, h. 492-493.
[17] http://buntexz.blogspot.com diakses tanggal 12 maret 2014, pukul 07.27
[18] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwwir,...., h. 85
[19] Ibid., h. 86.
[20] Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 3, terj, Syihabbudin,  (Depok; Gema Insani, 2006), h. 758-759
[21] Nashruddin Baidan, Tafsir Maudhu’i, (Yogyakarta: pustaka pelajar, 2001), h. 4-5.
[22] http://buntexz.blogspot.com diakses tanggal 12 maret 2014, pukul 07.27.
[23] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwwir,...., h. 303
[24] Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 3,..., h. 765.
[25] http://buntexz.blogspot.com diakses tanggal 12 maret 2014, pukul 07.27
[26] Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 3, ..., h. 765-766.