Minggu, 25 Januari 2015

ARTIKEL MENGAPLIKASIKAN TEORI PSIKOLOGI HUMANISME

ARTIKEL PSIKOLOGI UMUM
” Tawuran Pelajar Perspektif Psikologi Humanisme ”
Tawuran pelajar pada era globalisasi yang semakin merajalela. Padahal “Era globalisasi” yang sering disebut-sebut  sebagai era yang serba instan malah sering menimbulkan kontroversi. Bagaimana tidak, di era ini kehidupan manusia semakin dipermudah dengan adanya berbagai bentuk media elektronik. Media elektronik yang mau tidak mau mereka harus menggunakannya karena sebuah tuntutan zaman, dan sebagai pembantu kelangsungan hidup mereka. Bahkan untuk berkeliling dunia mereka tidak perlu repot-repot untuk menyewa kapal, tapi cukup dengan 2000 rupiah mereka bisa berkeliling dunia di warung internet selama satu jam. Dipihak lain dunia pendidikanpun mau tidak mau juga harus ikut beradaptasi dengan lahirnya era globalisasi. Baik itu fasilitas pembelajaran maupun sistim pengajarannya. Hal ini diterapakan dengan maksud dan tujuan untuk mempersiapkan peserta didik agar lebih menguasai dan bisa beradaptasi dengan arus globalisasi yang mengalir semakain cepat. Akan tetapi tujuan mulia yang di-idam-adamkan oleh setiap lembaga pendidikan yang ingin mencetak anak didiknya agar menjadi seseorang yang lebih baik, itu tidak bisa terwujudkan secara maksimal. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Salah satunya adalah terjadinya tawuran antar pelajar yang akhir akhir ini begitu marak terjadi dikalangan antar pelajar. Berbagai media informasi seperti internet, televisi, koran, dan lain sebagainya, hampir banyak memuat tentang informasi terkait tawuran antar pelajar. Seperti yang kami kutip dari media informasi internet tentang tawuran yang terjadi antar pelajar di bulungan jakarta selatan, seperti di bawah ini.
Berita dengan judul Tawuran Antar-Pelajar di Bulungan, 1 Siswa Tewas. Di kutip dari TEMPO.CO , yang terbit pada hari Senin, 24 September 2012. Berita ini menceritakan tentang Tawuran antar pelajar yang kembali terjadi di Bulungan, Jakarta Selatan. Kali ini memakan korban. Satu pelajar tewas dan satu lainnya terluka. Menurut juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, tawuran antara siswa pelajar SMA 6 dan SMA 70 pecah pada pukul 12.20 WIB. "Setelah bubar, didapati satu korban," kata Rikwanto, Senin, 24 September 2012.
Tawuran terjadi di Bunderan Bulungan, Jakarta Selatan. Korban bernama Alawi, siswa kelas X SMA 6, berdomisili di Larangan, Ciledug Indah. "Dia mendapat luka tusuk di bagian dada."
Korban kedua, Ramdan Dinis, kelas XII SMA 6, tinggal di Jalan Piso, Bintaro, Jakarta Selatan. Dia luka di pelipis. Kedua korban dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan. Sayangnya, nyawa Alawi tak tertolong. "Dia meninggal di rumah sakit tidak lama setelah dibawa ke sana," ujar Rikwanto.
Pemicu tawuran masih belum diketahui. Polisi baru menemukan sebuah celurit di lokasi. "Dugaan kami, itu alat yang digunakan untuk menewaskan korban," ujarnya.
Hingga sekarang kasus ini masih ditangani Polres Jakarta Selatan. Personel kepolisian masih mengulik data dari sekolah. "Kami mengurai kejadian agar tidak terulang. Anggota kepolisian masih ada di lapangan mengejar pelaku."
Berita diatas hanyalah salah satu contoh dari berbagai banyak berita tentang tawuran antar pelajar yang terjadi di negara kita. Sebenarnya akan terjadi pemahaman yang bertolak belakang ketika seseorang yang beridentitaskan sebagai pelajar di identikkan dengan istilah tawuran. Karena selain terkesan anarkis, hal tersebut bukanlah suatu tindakan yang pantas dilakukan oleh siapapun selain pelajar tentunya. Bahkan sebagian besar orang yang tidak berpendidikan pun tahu kalau tawuran itu adalah suatu perbuatan yang tercela. Seperti kejadian diatas. Sebuah fakta bahwa tawuran akan selalu menuai sisi negatif seperti cidera luka-luka pada badan atau bahkan sampai mati ataupun juga bisa menimbulkan dendam.
Bagaimana bisa bangsa kita untuk kedepannya itu beridentitaskan bangsa yang berintelektual tinggi kalau para pelajarnya saja mentradisikan tawuran sebagai hal yang wajar. Padahal kita tahu bahwa ritual tawuran itu akan banyak membawa mudzarat dari pada manfaatnya. Atau bahkan tidak ada manfaatnya sama sekali. Bukankah seharusnya mereka para pelajar maksudnya, bisa berpikir untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana mereka bisa melakukan tindakan tawuran tersebut. Apakah kesalahan dalam sistim pembelajaran di sekolahannya, atau kasih sayang dari orang tua yang kurang, atau memang dorongan dari diri mereka sendiri untuk melakukan hal tersebut.
Setiap pelajar memang mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Baik itu dari segi material maupun rohaniahnya. Akan tetapi seorang guru akan lebih tau bagaimana memberikan ilmunya dengan mengoperasikan metode yang bisa menyetarakan anak didiknya ketika dalam bangku sekolah formal maupun motifasi untuk bergaul diluar jam sekolah. Karena perbedaan latar belakag ini terkadang ada beberapa siswa yang salah penafsiran terkait kasih sayang seorang guru. Itu mungkin yang menjadi momok pada para siswa sehingga merasa dikucilkan dikelas, merasa kurang dari yang lain, karena sering jadi barang ejekan teman, atau hal-hal yang lain yang memekang perasaan dirinya. Sehingga menimbulkan rasa dendam dan ingin memberontaknya. Disinilah mungkin terkadang para pelajar sering salah menafsirkan pemberontakannya. Misalnya, karena merasa lebih kurang pengetahuan dari tema-temannya yang lain dan sering jadi bahan ejakan, mereka tidak memperbaiki dirinya untuk belajar dan membaca, tapi malah malas-malasan sampai-sampai menyalahkan gurunya bahkan sampai melampiaskannya ketindak kekerasan seperti tawuran kepada teman-temannya yang dianggapnya sebagai musuhnya.
Untuk memecahkan masalah mengenai tawuran antar pelajar ini akan coba kita benturkan dengan teori-teori psikologi humanistik dari Abrahah Maslow. Abrahah Maslow adalah anak pertama dari ibu yang imigran kebangsaan Rusia. Dia lahir pada tanggal 1 april 1908, di Brooklyn, New York, USA. Disaat kecilnya kehidupannya sangatlah memprihatinkan. Akan tetapi pada masa remajanya dia mulai gandrung dengan karya-karya filsafatnya. Kemudian dia memasuki bangku perkuliahan pada umur 18 tahun di fakultas hukum di City New York. Akan tetapi karena tidak merasa cocok dengan kuliahnya dia pindah ke Universitas Wisconsin yang menganmbil fakultas psikologi ilmiah. Dari situlah dia meniti karirnya sampai menemukan beberapa teori psikologi humanistik. Dalam psikologi humanistik ini moslow mengangkat beberapa teori diantaranya, yang pertama teori tentang kebutuhan dasar manusia, yang ke kedua teori aktualisasi diri, dan yang ke tiga tentang konsepsi pengalaman puncak.
Didalam teori tentang kebutuhan dasar manusia, maslow memiliki asumsi dasar bahwa tingkah laku manusia dapat ditelaah melalui kecenderungannya dalam memenuhi kebutuhan hidup, sehingga bermakna dan terpuaskan. Manusia mempunyai sifat dasar yang yang tidak akan pernah sepenuhnya merasa puas, karena kepuasan bagi manusia adalah bersifat sementara. Untuk itu dia menyusun lima kebutuhan dasar secara hierarki dan bersifat relatif, diantaranya :
1.      Kebutuhan kebutuhan fisiologis (fa’ali).
2.      Kebutuhan akan keselamatan.
3.      Kebutuhan akan rasa aman.
4.      Kebutuhan akan rasa cinta.
5.      Kebutuhan akan aktualisasi diri.
Moslow berargumen bahwasanya jika semua kebutuhan ini terpenuhi maka manusia tersebut akan semakin mencapai kesempurnaan sebagai manusia artinya akan tercapai kemandiriannya, kematangan jiwa, dan jiwa yang sehat. Akan tetapi apabila ada salah satu kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi maka akan menimbulkan kecacatan jiwa pada diri seseorang sehingga menjurus ke perbuatan penyelewengan seperti tindakan tawuran para pelajar pada berita diatas.
Diperkirakan dari sebagian pelajar yang ikut tawuran tersebut, kebutuhan akan rasa cintanya tidak terpenuhi. Seperti, kurangnya perhatian orang tua, guru, dan teman. Kurang bergaul dengan teman. Sehingga dia memendam masalahnya sendiri dan akhirnya melampiaskannya dengan tawuran. Hal tersebut bisa disikapi dengan mendekatinya mencoba ikut memecahkan permasalahannya. Dengan diajak curhat-curhat, dan mencoba untuk memotifasi dirinya.