ARTIKEL PSIKOLOGI UMUM
” Tawuran Pelajar Perspektif Psikologi Humanisme ”
Tawuran pelajar pada era globalisasi yang semakin
merajalela. Padahal “Era
globalisasi” yang sering disebut-sebut sebagai era yang serba instan malah sering menimbulkan kontroversi. Bagaimana tidak, di era ini kehidupan manusia semakin dipermudah
dengan adanya berbagai bentuk media elektronik. Media elektronik yang mau tidak
mau mereka harus menggunakannya karena sebuah tuntutan zaman, dan sebagai pembantu
kelangsungan hidup mereka. Bahkan untuk berkeliling dunia mereka tidak perlu
repot-repot untuk menyewa kapal, tapi cukup dengan 2000 rupiah mereka bisa
berkeliling dunia di warung internet selama satu jam. Dipihak lain dunia
pendidikanpun mau tidak mau juga harus ikut beradaptasi dengan lahirnya era
globalisasi. Baik itu fasilitas pembelajaran maupun sistim pengajarannya. Hal
ini diterapakan dengan maksud dan tujuan untuk mempersiapkan peserta didik agar
lebih menguasai dan bisa beradaptasi dengan arus globalisasi
yang mengalir semakain cepat. Akan tetapi tujuan mulia yang di-idam-adamkan
oleh setiap lembaga pendidikan yang ingin mencetak anak didiknya agar menjadi
seseorang yang lebih baik, itu tidak bisa terwujudkan secara maksimal. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Salah
satunya adalah terjadinya tawuran antar
pelajar yang akhir akhir ini begitu marak terjadi dikalangan antar pelajar.
Berbagai media informasi seperti internet, televisi, koran, dan lain sebagainya,
hampir banyak memuat tentang informasi terkait tawuran antar pelajar. Seperti
yang kami kutip dari media informasi internet
tentang tawuran yang terjadi antar pelajar di bulungan jakarta
selatan, seperti di bawah ini.
Berita dengan judul “ Tawuran Antar-Pelajar
di Bulungan, 1 Siswa Tewas”. Di
kutip dari TEMPO.CO ,
yang terbit pada hari Senin, 24
September 2012. Berita ini
menceritakan tentang Tawuran antar pelajar yang kembali terjadi
di Bulungan, Jakarta Selatan. Kali ini memakan korban. Satu pelajar tewas dan
satu lainnya terluka. Menurut juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya
Komisaris Besar Rikwanto, tawuran antara siswa pelajar SMA 6 dan SMA 70 pecah
pada pukul 12.20 WIB. "Setelah bubar, didapati satu korban," kata
Rikwanto, Senin, 24 September 2012.
Tawuran terjadi di Bunderan
Bulungan, Jakarta Selatan. Korban bernama Alawi, siswa kelas X SMA 6,
berdomisili di Larangan, Ciledug Indah. "Dia mendapat luka tusuk di bagian
dada."
Korban kedua, Ramdan Dinis, kelas XII SMA 6, tinggal di
Jalan Piso, Bintaro, Jakarta Selatan. Dia luka di pelipis. Kedua korban
dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan. Sayangnya,
nyawa Alawi tak tertolong. "Dia meninggal di rumah sakit tidak lama
setelah dibawa ke sana," ujar Rikwanto.
Pemicu tawuran masih belum diketahui. Polisi baru menemukan
sebuah celurit di lokasi. "Dugaan kami, itu alat yang digunakan untuk
menewaskan korban," ujarnya.
Hingga sekarang kasus ini masih ditangani Polres Jakarta
Selatan. Personel kepolisian masih mengulik data dari sekolah. "Kami
mengurai kejadian agar tidak terulang. Anggota kepolisian masih ada di lapangan
mengejar pelaku."
Berita diatas hanyalah salah satu contoh dari berbagai
banyak berita tentang tawuran antar pelajar yang terjadi di negara kita. Sebenarnya
akan terjadi pemahaman yang bertolak belakang ketika seseorang yang
beridentitaskan sebagai pelajar di identikkan dengan istilah tawuran. Karena
selain terkesan anarkis, hal tersebut bukanlah suatu tindakan yang pantas
dilakukan oleh siapapun selain pelajar tentunya. Bahkan sebagian besar orang
yang tidak berpendidikan pun tahu kalau tawuran itu adalah suatu perbuatan yang
tercela. Seperti kejadian diatas. Sebuah fakta bahwa tawuran akan selalu menuai
sisi negatif seperti cidera luka-luka pada badan atau bahkan sampai mati
ataupun juga bisa menimbulkan dendam.
Bagaimana bisa bangsa kita untuk kedepannya itu
beridentitaskan bangsa yang berintelektual tinggi kalau para pelajarnya saja
mentradisikan tawuran sebagai hal yang wajar. Padahal kita tahu bahwa ritual
tawuran itu akan banyak membawa mudzarat dari pada manfaatnya. Atau bahkan
tidak ada manfaatnya sama sekali. Bukankah seharusnya mereka para pelajar
maksudnya, bisa berpikir untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana mereka bisa melakukan tindakan
tawuran tersebut. Apakah kesalahan dalam sistim pembelajaran di sekolahannya,
atau kasih sayang dari orang tua yang kurang, atau memang dorongan dari diri
mereka sendiri untuk melakukan hal tersebut.
Setiap pelajar memang mempunyai latar belakang yang
berbeda-beda. Baik itu dari segi material maupun rohaniahnya. Akan tetapi
seorang guru akan lebih tau bagaimana memberikan ilmunya dengan mengoperasikan
metode yang bisa menyetarakan anak didiknya ketika dalam bangku sekolah formal
maupun motifasi untuk bergaul diluar jam sekolah. Karena perbedaan latar
belakag ini terkadang ada beberapa siswa yang salah penafsiran terkait kasih
sayang seorang guru. Itu mungkin yang menjadi momok pada para siswa sehingga
merasa dikucilkan dikelas, merasa kurang dari yang lain, karena sering jadi
barang ejekan teman, atau hal-hal yang lain yang memekang perasaan dirinya.
Sehingga menimbulkan rasa dendam dan ingin memberontaknya. Disinilah mungkin
terkadang para pelajar sering salah menafsirkan pemberontakannya. Misalnya,
karena merasa lebih kurang pengetahuan dari tema-temannya yang lain dan sering
jadi bahan ejakan, mereka tidak memperbaiki dirinya untuk belajar dan membaca,
tapi malah malas-malasan sampai-sampai menyalahkan gurunya bahkan sampai
melampiaskannya ketindak kekerasan seperti tawuran kepada teman-temannya yang
dianggapnya sebagai musuhnya.
Untuk memecahkan masalah mengenai tawuran antar pelajar
ini akan coba kita benturkan dengan teori-teori psikologi humanistik dari Abrahah
Maslow. Abrahah Maslow adalah anak pertama dari ibu yang imigran kebangsaan
Rusia. Dia lahir pada tanggal 1 april 1908, di Brooklyn, New York, USA. Disaat
kecilnya kehidupannya sangatlah memprihatinkan. Akan tetapi pada masa remajanya
dia mulai gandrung dengan karya-karya filsafatnya. Kemudian dia memasuki bangku
perkuliahan pada umur 18 tahun di fakultas hukum di City New York. Akan tetapi
karena tidak merasa cocok dengan kuliahnya dia pindah ke Universitas Wisconsin
yang menganmbil fakultas psikologi ilmiah. Dari situlah dia meniti karirnya
sampai menemukan beberapa teori psikologi humanistik. Dalam psikologi
humanistik ini moslow mengangkat beberapa teori diantaranya, yang pertama
teori tentang kebutuhan dasar manusia, yang ke kedua teori aktualisasi
diri, dan yang ke tiga tentang konsepsi pengalaman puncak.
Didalam teori tentang kebutuhan dasar manusia, maslow
memiliki asumsi dasar bahwa tingkah laku manusia dapat ditelaah melalui
kecenderungannya dalam memenuhi kebutuhan hidup, sehingga bermakna dan
terpuaskan. Manusia mempunyai sifat dasar yang yang tidak akan pernah
sepenuhnya merasa puas, karena kepuasan bagi manusia adalah bersifat sementara.
Untuk itu dia menyusun lima kebutuhan dasar secara hierarki dan bersifat
relatif, diantaranya :
1. Kebutuhan kebutuhan fisiologis (fa’ali).
2. Kebutuhan akan keselamatan.
3. Kebutuhan akan rasa aman.
4. Kebutuhan akan rasa cinta.
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri.
Moslow berargumen bahwasanya jika semua kebutuhan ini
terpenuhi maka manusia tersebut akan semakin mencapai kesempurnaan sebagai
manusia artinya akan tercapai kemandiriannya, kematangan jiwa, dan jiwa yang
sehat. Akan tetapi apabila ada salah satu kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi
maka akan menimbulkan kecacatan jiwa pada diri seseorang sehingga menjurus ke
perbuatan penyelewengan seperti tindakan tawuran para pelajar pada berita
diatas.
Diperkirakan dari sebagian pelajar yang ikut tawuran
tersebut, kebutuhan akan rasa cintanya tidak terpenuhi. Seperti, kurangnya
perhatian orang tua, guru, dan teman. Kurang bergaul dengan teman. Sehingga dia
memendam masalahnya sendiri dan akhirnya melampiaskannya dengan tawuran. Hal
tersebut bisa disikapi dengan mendekatinya mencoba ikut memecahkan
permasalahannya. Dengan diajak curhat-curhat, dan mencoba untuk memotifasi
dirinya.