Kamis, 22 Januari 2015

BAB II
PEMBAHASAN

A. PANGESTU
Pangestu merupakan singkatan dari Paguyupan Ngesti Tunggal, artinya perkumpulan dari mereka yang mencari Yang Tunggal sesuai dengan namanya, maka yang ingin dicari atau dicita-citakan oleh perkumpulan Pangestu adalah mencari kesatuan, baik secara vertical maupun horizontal. Secara vertical berarti kesatuan antara Tuhan dengan umatnya. Secara horizontal berarti kesatuan antara golongan-golongan dalam masyarakat, termasuk berbagai golongan-golongan penganut agama.
Pangestu adalah satu diantara paguyupan-paguyupan kebatinan yang keberadaannya di Yogyakarta  hingga saat ini cukup menonjol. Meskipun pangestu tidak lahir dari kota Yogyakarta namun organisasi kebatinan ini merupakan salah satu paguyupan yang menghimpun para penganut system kepercayaan jawa yang memiliki aktivitas dan pengikut yang lebih banyak jika dibandingkan dengan puluhan paguyupan kejawen lainya yang ada di Yogyakarta.
Untuk memahami lebih lanjut ajaran dan aktifitas para penganut Pangestu, dengan mengambil kasus organisasi Pangestu di Yogyakarta, maka terlebih dahulu diuraikan secara umum sejarah perkembangan Pangestu. Penggambaran sejarah dan perkambangan pangestu berikut akan dilakukan berdasarkan fase-fase umum sejarah dan perkembangan gerakan keagamaan sebagaimana yang dikemukakan oleh Notingham (1992: 156-161). Menurut Notingham, sejarah dan perkembangan dari suatu gerakan keagamaan dapat dipahami melalui tiga fase perkembangan. Fase pertama umumnya berisi sejarah kepribadian atau peristiwa-peristiwa yang terkait dengan kehidupan pribadi yang dialami oleh pendiri gerakan. Fase kedua melukiskan keinginan dari pendiri gerakan tersebut untuk memecahkan dan menjelaskan masalah-masalah organisasi, keperdayaan dan ritus kepada para pengikutnya yang pertama kali memercayai kepemimpinannya. Fase ketiga adalah fase yang dikondisikan oleh keberadaan organisasi yang sudah lama berjalan, dan telah ditinggalkan oleh pendirinya. Fase ketiga ini adalah fase penting dalam mempertahankan dan mengembangkan ajaran agama tersebut.
Dengan mendasarkan pada pendapat Notingham tersebut, gambaran tentang sejarah dan perkembangan Pangestu berikut akan dimulai dengan menguraikan riwayat hidup Soenarto sebagai pendiri pangestu, sejak kecil hingga dewasa, dan peristiwa pertama kali diterimanya padhang (pencerahan) dari Tuhan oleh R. Soenarto Mertowarjodo. Fase ini adalah fase pertama dari sejarah pangestu. Fase kedua tentang sejarah dan perkembangan pangestu akan difokuskan pada pembentukan organisasi yang mewadahi ikatan para warga yang meyakini ajaran-ajaran Soenarto. Terakhir, digambarkan tentang perkembangan Pangestu sejak ditinggalkan oleh pendirinya hingga sekarang. Ini merupakan fase ketiga dari sejarah dan perkembangan Pangestu.
1. Lambang pangestu
Lambang pangestu adalah mawar dan kamboja yang diwujudkan dengan setangkai bunga mawar merah jambu yang berduri tiga dan setangkai bunga kemboja putih yang berwarna keemasan pada tepinya. Lambing tersebut ditempatkan pada latar berwarna ungu. Bunga mawar berwarna merah jambu melambangkan tugas keluar, yaitu melaksanakan tugas hidup di masyarakat, yang digambarkan sebagai tugas satria kusuma bangsa. Duri yang berjumlah tiga melambangkan bahwa betapapun hebatnya seorang kesatria kusuma bangsa, namun sebagai manusia ia masih mempunyai cacat. Ada alanya ia terperangkap dalam kesombongan yang dalam istilah pangestu disigkat 3A, yaitu adigang, adigung, adiguna. Yang diterjemahkan dengan sifat yang angkuh, mengagung kan kepandian kebesaran dan kekuatannya. Selain itu manusia juga sering terperosok dalam 3a, takta, harta dan wanita.
Bunga kamboja berwarna putih melambangkan tugas kedalam, yaitu berbakti kehadirat Tuhan Yang Maha Esa dengan bekal kesucian yang digambarkan sebagai tugas panditha. Gabungan dari tugas keluar dan kedalam, sebagaimana disebutkan di atas, menggambarkan tugas satria Kusuma Bangsa dan sekaligus tugas pandhita, sehingga gabungan dari keduanya disebut sebagai bersifat satria phinandita.
2. Doktrin-doktrin Pangestu
Salah satu aspek yang selalu tercangkup dalam pengertian religi adalah system ajaran atau doktrin. Ajaran aatau doktrin merupakan pokok-pokok ajaran yang mencangkup pandangan dunia yang menentukan hubungan antara manusia dengan sesamanya, hubungan antara manusia dengan lingkungannya, dan hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Dalam pengertian ini, maka agama melalui ajarannya selalu mencangkup dua aspek yang penting diantaranya
a. Makna agama dalam fungsinya yang terkait dengan nilai-nilai dasar dari suatu masyarakat
b. Keyakinan atas dasar adanya kekuatan supernatural yang mendasari diterapkannya nilai-nilai itu dalam masyarakat
Dibandingkan dengan beberapa gerakan misis yang berkembang dijawa, Pangestu merupakan salah satu gerakan mistis yang memiliki sumber ajaran yang cukup lengkap, mencangkup berbagai acuan sebagai penuntun para pengikutnya dalam menentukan sikap dalam berhubungan dengan sesama manusia, dengan alam sekitarnya, serta dengan Tuhannya. Sebagaimana yang ada dalam berbagai agama, Pangestu juga memiliki doktrin ayng termuat dalam “kitab suci”, yang diyakini oleh pengikutnya merupakan kumpulan dari sabda-sabda Sang Guru Sejati. Pokok-pokok ajaran Pangestu tersebut secara garis besar terangkum dalam tiga kitab sebagai sumber ajaran pokoknya, yaitu kitab sabda pertam, kitab sasangka jati dan kitab sabda khusus. Ketiga kitab  tersebut diyakini oleh para penganut Pangestu sebagai sumber ajaran yang telah disabdakan oleh sang Guru Sejati melalui paranpara-Nya (penasihatnya), R. Soenarto Mertowardojo.
3. Pokok-pokok ajara dalam pangestu
Tuhan dalam ajaran pangestu di sebut “Pangeran Kang Maha Tunggal” (Tuhan yang Maha Esa) disebut dengan sasangka jati bahwa keadaan Tuhan yang Maha Esa itu disebut Tri Purusa, yaitu “keadaan satu yang bersifat 3" aspeknya adalah:
a. Sukma kawekas/ pangeran sejati (Allah Ta’ala) yaitu sumber hidup
b. Suksma sejati atau penuntun sejati atau guru sejati atau utusan Tuhan, yaitu yang menghidupi semua yang bersifat hidup
c. Roh suci atau jiwa manusia yang sejati, yaitu yang dihidupi
Pengertian suksma dijelaskan sebagai betikut:
Suksma adalah menghidupi atau yang membuat hidup atau yang membuat kita merasa hidup. Adapun suksma kawekas adalah sukma yang paling luhur atau yang menguasai hidup atau pemberi hidup. Suksma sejati adalah yang sebenarnya menghidupi, sedang yang dihidupi adalah roh Tuhan yang disebut roh suci yaitu jiwa manusia yang sejati.
Dalam ajaran Pangestu, suksma sejati adalah salah satu aspek dari suatu yang tunggal (Tri Purusa). Dr. Soemantri memberikan perumpamaan mengenai suksma kawekas adalah sebagai air yang diam yang didalamnya sudah terkandung kekuatan. Sedang suksma sejati adalah air yang sudah bergerak. Segala kekuatan dari air yang bergerak berasal dari air yang diam adapun roh suci diumpamakannya sebagai titik-titik air yang terlepas dari samudra (Tuhan).
Ajaran Pangestu tentang manusia, hubungan manusia dengan manusia menurut pangestu adalah dengan mengutamakan sikap kasih sayang, yaitu dengan menjalankan budi darma, melaksanakan segala sesuatu yang mulia dan susila sebagai perwujudan kasih sayang terhadap sesama. Tindakan ini sebagai perwujudan untuk memberikan pertolongan kepada sesama manusia. Sikap yang demikian akan memurnikan hati, sebab hati yng belum murni bisa melahirkan sikap fanatic.
4. Ibadah/sembahyang
Sebagai sebuah organisasi, Pangestu tidak memiliki ritual khusus dalam melakukan ibadah karena diserahkan sepenuhnya sesuai dengan tuntunan agama masing-masing. Ketentuan ini tercantum dalam AD/ART yang berbunyi “dalam melakukan ibadah (kebaktian) kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Utusan Tuhan para anggota diberi kebebasan menurut cara agama Islam ataupunKristen masing-masing yang diperlukannya dan tidak diperkenankan mengikuti aliran-aliran kebatinan”
Dalam pangestu juga tidak menyinggung masalah tata cara perkawinan, pengangkatan sumpah/janji, perawatan jenasah. Semua itu dikembalikan kepada tata perundangan yang berlaku dan adat istiadat yang ada. Hal ini menegaskan bahwa pangestu bukan merupakan suatu agama. Tetapi sebagai anggota Pangestu selain menjalankan ritual agama yang diyakininya, juga memiliki ritual yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada tuhan dengan melakukan Ngesti yaitu berdoa sebagaimana yang ada dalam buku Pangesti (buku tuntunan doa) yang berisi bacaan-bacaan dalam berbagai kegiatan pangestu dan bacaan doa ketika hendak memohon kepada Tuhan dalam bahasa jawa.

B. SAPTA DARMA
Sapta darma adalah sebuah aliran kerohanian yang berarti tujuh kewajiban suci. Penerimaan ajaran Sapta Darma adalah Hardjosapoera, nama aslinya Arjo Sopuro lahir pada tahun 1910 di Desa Semanding, sebelah Utara kecamatan Pare kabupaten Kediri. Bersekolah hanya sampai kelas 3 Sekolah Dasar karena orang tuanya tak mampu membiaya. Pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang cukur. Tidak pernah atau mencari ilmu pada kyai atau ulama lain, seperti yang umumnya dilakukan oleh para mitranya.
Ajaran ibadah dalam Sapta Darma:
1. Wahyu Sujud adalah memuat ajaran tentang tata cara ritual sujud/ menyembah kepada Tuhan (Allah Hyang Maha Kuasa) bagi Warga Sapta Darma.
2. Wahyu Racut adalah memuat ajaran tentang tata cara rohani manusia untuk mengetahui alam langgeng atau melatih sowan/menghadap Hyang Maha Kuasa.
3. Wahyu Lambang Pribadi Manusia menjelaskan tentang asal mula, sifat watak dan tabiat manusia itu sendiri, serta bagaimana manusia harus mengendalikan nafsu agar dapat mencapai keluhuran budi.
4. Wewarah Tujuh, merupakan kewajiban hidup manusia di dunia sekaligus merupakan pandangan hidup dan pedoman hidup manusia. Dalam Wewarah Tujuh tersebut tersirat kewajiban hidup manusia dalam hubungannya dengan Allah Hyang Maha Kuasa, Pemerintah dan Negara, nusa dan bangsa , sesama umat makluk sosial, pribadinya sebagai makluk individu, masyarakat sekitar dan lingkungan hidupnya serta meyakini bahwa keadaan dunia tiada abadi.
5. Wahyu Sesanti yang cukup jelas dan gampang dimengerti oleh siapapun, membuktikan suatu etika/ciri khas Sapta Darma yang menitik beratkan kepada warganya harus bermakna dan berguna bagi sesama umat/ membahagiakan orang lain (tansah agawe pepadang lan maraning lian).
Setelah seluruh ajaran yang diterima genap, maka dalam pengembangan ajaran Sapta Darma itu dilakukan dengan jalan penyembuhan, dimana pada saat itu dengan Sabda WARAS, setiap warga yang saat itu menjalankan sujud Sapta Darma dapat menyembuhkan masyarakat yang sakit. Inilah awal mula perkembangan ajaran Sapta Darma, yaitu dari mereka yang telah disembuhkan maupun yang ingin menjalani sendiri (bukan karena sakit). Sejak tahun 1956 itulah ajaran Sapta Darma merambah keluar dari Pare, Kediri Jawa Timur menuju daerah lain seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali, Sumatera dan Kalimantan.
Tiga dasar/pegangan yang diberikan oleh Bapak Panuntun Agung Sri Gutama kepada para warga yang bersedia menyebarkan ajaran Sujud Sapta Darma adalah:
a. Yakin akan kebenaran terhadap ajaran Sapta Darma itu berdasarkan wahyu,
b. Harus didasari dengan kesucian hati, kejujuran dan tanpa adanya pamrih apa saja untuk kepentingan pribadi.
c. Kebulatan tekad ketabahan hati serta tahan uji dari segala rintangan yang mungkin terjadi.
Setelah ajaran Sapta Darma berkembang luas di mana-mana, maka untuk adanya keseragaman dan kemurnian ajaran Sapta Darma, di tiap-tiap daerah yang sudah banyak warganya oleh Panutan Agung ditunjuk adanya Tuntunan yaitu warga yang diberi tugas sebagai penanggung jawab terhadap perkembangannya maupun kelangsungan pembinaan para warga di daerah-daerah di tingkat kabupaten dan karisedenan pada waktu itu.
1. Ajaran-ajaran pokok Sapta Darma
a. Tujuh Kewajiban Suci (Sapto Darmo)
Penganut Sapto Darmo meyakini bahwa manusia hanya memiliki 7 kewajiban atau disebut juga 7 Wewarah Suci, yaitu:
1) Setia dan tawakkal kepada Pancasila Allah (Maha Agung, Maha Rahim, Maha Adil, Maha Kuasa, dan Maha Kekal).
2) Jujur dan suci hati menjalankan undang-undang negara.
3) Turut menyingsingkan lengan baju menegakkan nusa dan bangsa.
4) Menolong siapa saja tanpa pamrih, melainkan atas dasar cinta kasih.
5) Berani hidup atas kepercayaan penuh pada kekuatan diri-sendiri.
6) Hidup dalam bermasyarakat dengan susila dan disertai halusnya budi pekerti.
7) Yakin bahwa dunia ini tidak abadi, melainkan berubah-ubah (angkoro manggilingan).
2. Panca Sifat Manusia
Menurut Sapto Darmo, manusia harus memiliki 5 (lima) sifat dasar yaitu:
a. Berbudi luhur terhadap sesama umat lain.
b. Belas kasih (welas asih) terhadap sesama umat yang lain.
c. Berperasaan dan bertindak adil.
d. Sadar bahwa manusia dalam kekuasaan (purba wasesa) Allah.
e. Sadar bahwa hanya rohani manusia yang berasal dari Nur Yang Maha Kuasa yang bersifat abadi.
3. Konsep tentang Alam
Konsep alam dalam pandangan Sapto Darmo adalah meliputi 3 alam:
a. Alam Wajar yaitu alam dunia sekarang ini.
b. Alam Abadi yaitu alam langgeng atau alam kasuwargan. Dalam terminologi Islam maknanya mendekati alam akhirat.
c. Alam Halus yaitu alam tempat roh-roh yang gentayangan (berkeliaran) karena tidak sanggup langsung menuju alam keswargaan. Roh-roh tersebut berasal dari manusia yang selama hidup di dunia banyak berdosa.
4. Konsep Peribadatan
Konsep ibadah dalam Sapto Darmo tercermin pada ajaran mereka tentang Sujud Dasar. Sujud Dasar terdiri dari tiga kali sujud menghadap ke Timur. Sikap duduk dengan kepala ditundukkan sampai ke tanah, mengikuti gerak naik sperma yakni dari tulang tungging ke ubun-ubun melalui tulang belakang, kemudian turun kembali. Amalan seperti itu dilakukan sebanyak tiga kali. Dalam sehari semalam, pengikut Sapto Darmo diwajibkan melakukan Sujud Dasar sebanyak 1 kali, sedang selebihnya dinilai sebagai keutamaan.
5. Menyatu dengan Tuhan
Sebagai hasil dari amalan Sujud Dasar, mereka meyakini dapat menyatu dengan Tuhan dan dapat menerima wahyu tentang hal-hal ghaib. Mereka juga meyakini, orang yang sudah menyatu dengan Tuhan bisa memiliki kekuatan besar (dahsyat) yang disebut sebagai atom berjiwa, akal menjadi cerdas, dan dapat menyembuhkan atau mengobati penyakit.


6. Hening
Hening adalah salah satu ajaran Sapto Darmo yang dilakukan dengan cara menenangkan semua fikiran seraya mengucapkan, Allah Hyang Maha Agung, Allah Hyang Maha Rahim, Allah Hyang Maha Adil. Orang yang berhasil dalam melakukan hening akan dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, antara lain:
a. Dapat melihat dan mengetahui keluarga yang tempatnya jauh,
b. Dapat melihat arwah leluhur yang sudah meninggal,
c. Dapat mendeteksi suatu perbuatan, jadi dikerjakan atau tidak,
d. Dapat mengirim atau menerima telegram rasa,
e. Dapat melihat tempat yang angker untuk dihilangkan keangkerannya,
f. Dapat menerima wahyu atau berita ghaib.
7. Racut.
Racut adalah ajaran dan praktek dalam Sapto Darmo yang intinya adalah usaha untuk memisahkan rasa, fikiran, atau ruh dari jasad tubuhnya untuk menghadap Allah, kemudian setelah tujuan yang diinginkan selesai lalu kembali ke tubuh asalnya. Caranya yaitu setelah melakukan sujud dasar, kemudian membungkukkan badan dan tidur membujur Timur-Barat dengan kepala di bagian timur, posisi tangan dalam keadaan bersedekap di atas dada (sedekap saluku tunggal) dan harus mengosongkan pikiran. Kondisi tubuh di mana akal dan fikirannya kosong sementara ruh berjalan-jalan itulah yang dituju dalam racut, atau disebut juga kondisi mati sajroning urip.
8. Lambang-Lambang
Ada 4 pembahasan lambang-Lambang, yaitu:
a. Gambar segi empat, yang menggambarkan manusia seutuhnya,
b. Warna dasar pada gambar segi empat, yaitu hijau muda yang melambangkan sinar cahaya Allah,
c. Empat sabuk lingkaran dengan warna yang berbeda-beda, hitam melambangkan nafsu lauwamah, merah melambangkan nafsu ammarah, kuning melambangkan nafsu sauwiyah, dan putih melambangkan nafsu muthmainnah;
d. Vignette Semar (gambar arsir Semar) melambangkan budi luhur. Genggaman tangan kiri melambangkan roh suci, pusaka semar melambangkan punya kekuatan sabda suci, dan kain kampuh berlipat lima (wiron limo) melambangkan taat pada Pancasila Allah.

C. SUMARAH
1. Pengertian Sumarah
Kata sumarah berasal dari bahasa Jawa artinya menyerah atau pasrah. Sedangkan Sumarah yang dimaksud adalah tingkat kesadaran manusia untuk berserah diri seutuhnya kepada Tuhan YME. Paguyuan Sumarah mendasarkan diri pada Ilmu Sumarah yang diwahyukan pertama kali kepada R.Ng. Soekinohartono. Ilmu Sumarah intinya mengutamakan sujud sumarah, yakni pasrah menyerah bulat seutuhnya kepada Tuhan YME. Dalam praktiknya sujud sumarah tampak sederhana, tetapi harus dilakukan dengan tekad yang teguh, tekun, dan waspada. Yang dapat diterima menjadi anggota Paguyuban Sumarah adalah warga Indonesia yang sudah mencapai umur 15 tahun, serta sudah tergugah rasa ketuhannnaya, bersedia mematuhi sesanggeman, menyetujui anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Paguyuban Sumarah, tanpa membedakan suku bangsa, religi, dan jenis kelamin.
Sesanggeman yang harus dipatuhi warga Paguyuban Sumarah adalah sebagai berikut.
a. Sanggem tansah enget dhateng Allah, sumingkir saking raos pandaku, kumingsun, pitados dhateng kasunyatan saha sujud sumarah ing Allah.
b. Marsudi sarasing sarira, tentreming panggalih saha sucining Rohipun, mekaten ugi ngutamekaken watakipun, dalah muna-muni tuwin tindak-tandukipun.
c. Ngraketaken pasedherekan adhedhasar rasa sih.
d. Sanggem tumindak saha makarti, anjembaraken wajibing ngagesang, sarta anggatosaken preluning bebrayan umum, netepi wajibing Warga Negara, tumuju dhateng kamulyan saha kaluhuran, ingkang mahanani tata tentreming jagad raya.
e. Sanggem tumindak leres, ngestokaken Angger-Angger Nagari tuwin ngaosi ing sasami, mboten nacat kawruhing liyan, malah tumindak kanthi sih, murih sadaya golongan, para ahli kebatosan tuwin sadaya Agami saged nunggil gegayuhan.
f. Sumingkir saking pandamel awon, maksiyat, jahil, drengki, lan sasaminipun. Sadaya tindak tuwin pangandika sarwa prasaja sarta nyata, kanthi sabar saha titi, mboten kesesa, mboten sumengka.
g. Taberi ngudi jembaring seserepan lahir batos.
h. Boten fanatik, namung pitados dhateng kasunyatan, ingkang tundhonipun murakabi dhateng bebrayan umum.
2. Riwayat Singkat Pendiri Paguyuban Sumarah
Pendirinya adalah R.Ng. Soekinohartono (Pak Kino). Beliau dilahirkan pada tanggal 27 (26 malem) Desember 1897 di desa Munggi, Kapanewon Semawu, Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta, dari keluarga Raden Wirowedono. Pak Kino meninggal dunia pada tanggal 25 Maret 1971 di Wirobrajan VII/158 dan dimakamkan di Pemakaman Kuncen Yogyakarta. Beliau pernah mengikuti pendidikan di Sekolah Rendah, dan setelah dewasa berpindah ke Yogyakarta. Kemudian menjadi pegawai di Keraton sebagai Mantri Pamicis, akhirnya menjadi pegawai Bank Nasional di Yogyakarta. Sejak muda R.Ng. Soekinohartono sudah tertarik pada ilmu kebatinan, gemar melakukan tirakat, tapa brata, dan meditasi. Beliau juga telah memiliki benih ilmu kebatinan warisan dari orang tuanya, berupa ilmu kanuragan atau jayakawijayan. Namun, ilmu seperti itu menurut pendapatnya tidak membawa pada keselamatan. Oleh sebab itu, ilmu kanuragan itu kemudian ditinggalkan, dan mencari guru yang ilmunya dapat membawa kepada keselamatan lahir dan batin.
Lahirnya tuntunan Sumarah adalah dalam kondisi ketika bangsa Indonesia sedang mengalami penderitaan karena dijajah oleh kolonial Belanda. Pak Kino merasa prihatin melihat keadaan bangsanya. Oleh karena itu, beliau senantiasa memohon dengan bermeditasi kepada Tuhan YME, agar bangsa Indonesia merdeka terlepas dari penjajahan asing. Permohonannya kemudian dikabulkan oleh Tuhan YME dengan diwahyukannya tuntunan Sumarah melalui Hakiki kepada R.Ng. Soekinohartono pada tanggal 8 September 1935 di rumahnya Wirobrajan VII/158 Yogyakarta. Hakiki adalah sumber otoritas spiritual sebagai perantara Tuhan kepada individu tertentu, yang artinya sama dengan guru sejati. Ketika itu beliau sedang bermeditasi memohon kemerdekaan Indonesia, dan menerima Ilmu Sumarah untuk diajarkan kepada umat manusia agar beriman seutuhnya kepada Than YME. Karena pada waktu itu di kalangan bangsa Indonesia masih banyak yang imannya tidak bulat. Mulai saat itulah Pak Kino melaksanakan tugasnya membimbing Sufi-Sufi Jawa Pak Suhardo, Pak Hardjoguno, Pak Sastrosudjono, Pak M. Nirman Rogoatmodjo, Pak Prawiroatmodjo, Pak Dwidjowijoto, dan seterusnya.
3. Doktrin-Doktrin dalam Sumarah
Konsep Tuhan dan manusia menurut Sumarah adalah Manusia yang pertama kali diciptakan oleh Tuhan YME adalah Adam dan Hawa. Namun keduanya tidak dipandang sebagai manusia riil, tetapi mereka adalah roh suci yang berasal dari Zat Yang Maha Esa dan badan nafsu yang berasal dari iblis. Firdaus sebagai alam kehidupan Adam dan Hawa yang pertama, menurut ajaran Sumarah, diartikan sebagai Alam Suci. Godaan Iblis kepada Adam dan Hawa ketika masih bermukim di Firdaus, pada dasarnya adalah godaan badan nafsu untuk kepada roh suci agar menyekutukan Tuhan. Kemudian setelah iblis berhasil menggoda Adam dan Hawa (roh suci dan badan nafsu), maka mereka diusir dari Alam Suci (Firdaus) dan masuk ke dalam alam rahim (kandungan) wanita. Adam dan Hawa setelah keluar dari Firdaus dalam keadaan telanjang bulat (sebagai lelaki dan perempuan), diartikan bahwa sesudah bayi lahir dalam keadaan telanjang baru dapat diketahui jenis kelaminnya.
Manusia dalam hidup sehari-hari digambarkan sebagai sebuah Negara lengkap dengan aparat pemerintahannya. Jiwa berfungsi sebagai kepala Negara dan empat nafsu sebagai kabinetnya. Dewan perwakilan terdiri dari malaikat Jibril dan Ijajil, dan jantung berfungsi sebagai kantor pusat pemerintahan. Melalui pembuluh darah, kantor pusat dapat berhubungan dengan seluruh bagian. Otak berfungsi sebagai kantor telekomunikasi, hati sebagai pusat distribusi, dan perut sebagai pabrik segala makanan. Pembuluh darah sebagai jalan lintas, dimana sel-sel darah sebagai pegawai negeri dan sel darah putih sebagai tentara dan polisi.
Meskipun jiwa berfungsi sebagai kepala Negara tapi dalam pelaksanaannya dia tidak mempunyai kekuasaan. Keempat mentri itulah yang menguasai pemerintahan. Sikap manusia tergantung dari sifat dominan keempat nafsu yang ada. Jika seseorang meninggal dunia tetapi jiwanya belum bersih, karena masih dilekati hawa nafsu, maka rohnya mengembara dan selalu tertarik kepada hidup duniawi. Roh yang mengembara, jika menjumpai sepasang lelaki perempuan yang sedang bercinta kasih, maka roh itu segera masuk ke dalam kandungan wanita itu. Demikianlah cara kelahiran kembali (reinkarnasi) dalam konsep Paguyuban Sumarah.

D. SUBUD
1. Sejarah
SUBUD adalah singkatan dari Susila Budhi Dharma, tiga kata yang berasal dari bahasa Sanskerta. Pendiri   Perkumpulan   Persaudaraan   Kejiwaan   SUBUD   adalah   Bapak   R.M. Muhammad Subuh Sumohadiwijoyo. Beliau lahir tanggal 22 Juni 1901 pukul lima pagi di Kedungjati, Semarang. Beliau dibesarkan oleh kakeknya, R.M Sumowardoyo. Sejak lahir, beliau sering sakit-sakitan. Karena saat itu dokter masih jarang, maka pengobatannya melalui pengobatan tradisional. Suatu ketika, ketika orang-orang sedang berkerumun untuk menyembuhkan Pak SUBUD kecil ini, seorang laki-laki berjubah hitam datang mendekat dan bertanya ada apa. Orang-orang menjawab bahwa ada seorang anak kecil yang sejak lahir sakit-sakitan. Lalu orang itu bertanya nama anak kecil tersebut. Saat itu, nama yang diberikan oleh orangtuanya adalah Soekarno. Orang berjubah hitam itu kemudian mengatakan bahwa namanya harus diubah, karena nama Soekarno sudah ada yang memakai. Ternyata nama Soekarno yang dimaksud itu dimiliki oleh presiden pertama Indonesia. Orang tersebut menyarankan agar namanya diganti dengan Muhammad Subkhi. Tetapi agar lebih mudah menyebutnya,  maka pak Subkhi biasanya dipanggil pak Subuh. Tanggal lahir dan tahun kelahiran pak Subuh memang sama dengan bulan dan tahun lahir presiden pertama kita, pak Soekarno. Bagi para ahli spiritual, mereka sudah memprediksi bahwa pada tahun 1901 di indonesia akan lahir dua manusia yang benar-benar mendapat kemurahan dari Tuhan. Yang satu akan bergerak di bidang pemerintahan, yaitu pak Soekarno, dan yang satu lagi di bidang sosial spiritual yaitu pak Subuh. Kelahiran kedua tokoh besar ini ternyata sudah diprediksikan oleh para ahli-ahli spiritual.
Pada tahun 1917, saat  usia Pak Subuh menginjak 16 tahun, kakeknya meninggal dunia. Sejak saat itulah, beliau berhenti sekolah dan bekerja sebagai pegawai perusahaan kereta api negara (saat itu, Indonesia masih dibawah kekuasaan Belanda). Latihan kejiwaan SUBUD diterima oleh pak Subuh dalam suatu pengalaman gaib pada tahun 1925 pada usia 24 tahun. Karena semakin sering mendapat petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya beliau  mengundurkan diri dan fokus pada bidang spiritualnya. Delapan tahun kemudian, barulah beliau menamakannya Latihan Kejiwaan. SUBUD sebagai organisasi dibentuk dan resmi berdiri tanggal 1 Februari 1947 di Jogjakarta.
2. Lambang
Sesuai dengan lambangnya, SUBUD terdiri dari 7 lingkaran. Latihan kejiwaan kita ini bukan semata-mata untuk diri pribadi saja, tetapi juga untuk nenek moyang kita yang sudah meninggal dari 7 turunan itu. Mereka masih bisa kita tolong apabila beliau-beliau masih kurang sempurna ibabahnya, masih belum enak ―tempat‖nya. Dengan latihan susila budhi dharma kita dapat membantu mereka untuk mendapat ―tempat yang lebih layak.
3. Ajaran
Budhi adalah daya kekuatan  diri pribadi  yang  ada pada diri  manusia. Sedangkan Dharma adalah penyerahan, ketawakalan, dan keikhlasan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. SUBUD itu bukan pengobatan, bukan juga agama. SUBUD hanya mengajarkan dan membantu orang-orang untuk melakukan penyerahan total pada Tuhan. Oleh karena itu, semua agama dapat masuk mengikuti latihan kejiwaan SUBUD ini. Di dalam SUBUD, tidak dikenal sebutan guru atau pemimpin atau apapun. SUBUD adalah ajaran langsung dari Tuhan Yang Maha Esa. Gurunya adalah langsung Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri.
Menurut Pak Muhammad, SUBUD ini bukanlah suatu agama atau kepercayaan baru. SUBUD ini menerima semua anggota dari agama apapun, Islam Kristen Katolik Hindu Buddha Konghucu sampai yang atheist, karena menurut sang pendiri, SUBUD adalah untuk semua manusia, tanpa terkecuali. Ya, hanya wadah untuk orang-orang yang mencari ‘tuntunan hidup’ ataupun mengejar ‘latihan spiritual’ untuk mencapai ‘ketenteraman jiwa’, bukan dengan cara mendengarkan ceramah, tapi mencari jawaban dari dalam diri masing-masing.
Latihan kejiwaan Subud dapat dilakukan baik dalam kelompok maupun sendirian. Bila keadaan memungkinkan, idealnya ialah berlatih dua kali seminggu dalam grup dan sekali seminggu seorang diri. Kini, di berbagai komunitas di seluruh dunia terdapat sebanyak 385 grup Subud. Komite-komite setempat mengusahakan sarana latihan. Di sebagian besar negeri tempat Subud berakar ada organisasi nasional yang mengadakan kongres berkala agar para anggota dapat baik bersilatulrahmi maupun berbakti bersama kepada Tuhan Yang Mahaesa. Semua organisasi nasional mengambil bagian dalam Asosiasi Subud Sedunia (World Subud Association, WSA) dan memilih direktur dan pejabatnya. WSA mensponsori kongres internasional yang diselenggarakan tiap empat tahun sekali. Pada tahun 1997 kongres tersebut akan diadakan di kota Spokane, Washington, Amerika Serikat. Kongres-kongres sebelumnya diadakan di Kolombia, Australia, Inggris, Kanada, Jerman, Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat.