Menulis merupakan hal yang sudah tidak tabu dalam kehidupan para pelajar. Hal ini sudah diajarkan semenjak di bangku Sekolah Dasar atau bahkan sebelumnya. Berawal dari pengamatan dan menulis satu huruf demi satu huruf "A, B, C dan seterusnya" artinya sudah ada konstruktif budaya menulis dari dini. hal ini terus berlanjut, namun continyuitas-nya semakin menyusut. Pendidikan menulis yang seharusnya diajarkan bertahap secara continyu, malah semakin miris.
Kepedulian menulis di Indonesia masih minim peminat. Pendidikan menulis yang seharusnya sudah menjadi landasan dasar dalam menambah wawasan dan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia justru terabaikan. Hal ini bisa dibuktikan dari presentasi penulis di Indonesia yang hanya berkisar sekitar 1% penulis.
Padahal menjadi seorang penulis mempunyai banyak manfaat, diantaranya:
Dituntut banyak membaca
seorang penulis dituntut untuk terus membaca, baik membaca buku ataupun membaca situasi lingkungan. tidak mungkin seorang penulis bisa menuliskan apa yang tidak diketahuinya, syarat menjadi seorang penulis harus tahu apa yang ditulis dan diketahuinya. otomatis seorang penulis semakin lama dituntut untuk menjadi seorang yang semakin cerdas dan pintar.
Belajar dari kesalahan
banyak tokoh-tokoh penulis profesional di Indonesia, atau mungkin di Dunia. dari sekian penulis profesional mereka tidak pernah belajar tanpa melalui sebuah proses kesalahan. besar kemungkinan buku yang telah dipublikasikan merupakan kumpulan perbaikan kesalahan-kesalahan seorang penulis. begitupun juga dengan penulis pemula, pasti mengalami sebuah atau mungkin beberapa masalah kepenulisan. dan hal ini patut untuk dijadikan sebuah pembelajaran. karena seorang penulis profesionalpun terkadang mengalami kesalahan, apalagi seorang yang masih baru atau masih tahap step awal pembelajaran.
penulis itu kaya
tahukah bahwa penulis itu bisa membuat kaya? mereka [para penulis] mendedikasikan hidupnya untuk selalu kreatif dan ketekunannya untuk membuahkan hasil. tidak terkecuali kreatifitas dan ketekunannya menghasilkan uang. semakin lama semakin banyak uang yang dihasilkan dari menulis.
penulis itu banyak teman
seorang penulis mampu mempunyai banyak teman. hal ini disebabkan seorang penulis pasti berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait, seperti desainer sampul, penerbit, atau mungkin juga berkawan dengan komunitas dan kawan penulis lainnya bukan hanya sesama daerah, berbagai wilayah di Indonesia atau mungkin dengan seluruh kawan di Dunia sebab sebuah negara di dunia mayoritas atau bahkan pasti mempunyai seorang penulis. hal ini bisa menjadi daya gedor dalam ukhuwah manusia.
penulis itu pahlawan
pangeran diponegoro, pangeran antasari, presiden soekarno, dan lain-lain mereka adalah seorang pahlawan yang berkontribusi nyawanya demi kemerdekaan dan menumpas penjajah dinegaranya. seorang penulis berkontribusi daya dan tenaganya untuk menumpas kebodohan dan kesenjangan pendidikan di negerinya. bukankah mereka juga bisa disebut seorang pahlawan negara?
dan masih banyak lagi manfaat lainnya
ada apa dengan budaya menulis di indonesia? dengan beberapa manfaat yang cukup menggiurkan tidak cukupkah menggoda para bangsa Indonesia untuk menulis? atau mungkin ada peran pemerintah yang masih kurang dalam menumbuhkan budaya menulis di Indonesia? ternyata banyak faktor-faktor yang diketemukan secara realita.
Faktor-faktor buruknya budaya menulis di Indonesia cukup banyak diantaranya:
1. Kurangnya minat pelajar dalam membudayakan baca tulis.
2. Kurangnya kesadaran pentingnya menulis untuk pendidikan di Indonesia.
3. Masih sedikitnya motivator-motivator di Indonesia dalam menyuntikkan minat kepenulisan.
4. Kurangnya asupan-asupan Pemerintah dalam mendidik dan menerapkan belajar menulis dari tahap-ke tahap.
Kepedulian menulis di Indonesia masih minim peminat. Pendidikan menulis yang seharusnya sudah menjadi landasan dasar dalam menambah wawasan dan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia justru terabaikan. Hal ini bisa dibuktikan dari presentasi penulis di Indonesia yang hanya berkisar sekitar 1% penulis.
Padahal menjadi seorang penulis mempunyai banyak manfaat, diantaranya:
Dituntut banyak membaca
seorang penulis dituntut untuk terus membaca, baik membaca buku ataupun membaca situasi lingkungan. tidak mungkin seorang penulis bisa menuliskan apa yang tidak diketahuinya, syarat menjadi seorang penulis harus tahu apa yang ditulis dan diketahuinya. otomatis seorang penulis semakin lama dituntut untuk menjadi seorang yang semakin cerdas dan pintar.
Belajar dari kesalahan
banyak tokoh-tokoh penulis profesional di Indonesia, atau mungkin di Dunia. dari sekian penulis profesional mereka tidak pernah belajar tanpa melalui sebuah proses kesalahan. besar kemungkinan buku yang telah dipublikasikan merupakan kumpulan perbaikan kesalahan-kesalahan seorang penulis. begitupun juga dengan penulis pemula, pasti mengalami sebuah atau mungkin beberapa masalah kepenulisan. dan hal ini patut untuk dijadikan sebuah pembelajaran. karena seorang penulis profesionalpun terkadang mengalami kesalahan, apalagi seorang yang masih baru atau masih tahap step awal pembelajaran.
penulis itu kaya
tahukah bahwa penulis itu bisa membuat kaya? mereka [para penulis] mendedikasikan hidupnya untuk selalu kreatif dan ketekunannya untuk membuahkan hasil. tidak terkecuali kreatifitas dan ketekunannya menghasilkan uang. semakin lama semakin banyak uang yang dihasilkan dari menulis.
penulis itu banyak teman
seorang penulis mampu mempunyai banyak teman. hal ini disebabkan seorang penulis pasti berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait, seperti desainer sampul, penerbit, atau mungkin juga berkawan dengan komunitas dan kawan penulis lainnya bukan hanya sesama daerah, berbagai wilayah di Indonesia atau mungkin dengan seluruh kawan di Dunia sebab sebuah negara di dunia mayoritas atau bahkan pasti mempunyai seorang penulis. hal ini bisa menjadi daya gedor dalam ukhuwah manusia.
penulis itu pahlawan
pangeran diponegoro, pangeran antasari, presiden soekarno, dan lain-lain mereka adalah seorang pahlawan yang berkontribusi nyawanya demi kemerdekaan dan menumpas penjajah dinegaranya. seorang penulis berkontribusi daya dan tenaganya untuk menumpas kebodohan dan kesenjangan pendidikan di negerinya. bukankah mereka juga bisa disebut seorang pahlawan negara?
dan masih banyak lagi manfaat lainnya
ada apa dengan budaya menulis di indonesia? dengan beberapa manfaat yang cukup menggiurkan tidak cukupkah menggoda para bangsa Indonesia untuk menulis? atau mungkin ada peran pemerintah yang masih kurang dalam menumbuhkan budaya menulis di Indonesia? ternyata banyak faktor-faktor yang diketemukan secara realita.
Faktor-faktor buruknya budaya menulis di Indonesia cukup banyak diantaranya:
1. Kurangnya minat pelajar dalam membudayakan baca tulis.
2. Kurangnya kesadaran pentingnya menulis untuk pendidikan di Indonesia.
3. Masih sedikitnya motivator-motivator di Indonesia dalam menyuntikkan minat kepenulisan.
4. Kurangnya asupan-asupan Pemerintah dalam mendidik dan menerapkan belajar menulis dari tahap-ke tahap.