A. Latar Belakang
BAB I
PENDAHULUAN
Manusia dalam bukunya Man the Unknown, Dr. A. Carrel menjelaskan tentang
kesukaran yang dihadapi untuk mengetahui hakikat manusla. Dia mengatakan babwa
pengetahuan tentang makhluk-makhluk hidup secara umum dan manusia khususnya
belum lagi mencapai kemajuan seperti yang telah dicapai dalam bidang Ilmu
pengetahuan Iainnya. Selanjutnya la menulis:
Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang sangat besar untuk
mengetahui dirinya, kendatipun kita memiliki perbendaharaan yang cukup banyak dan
hasil peneiltian para ilmuwan, filosof, sastrawan, dan para ahli di bidang keruhanian
sepanjang masa ini. Tapi kita
1. Pembahasan tentang masalah manusla terlambat
karena pada mulanya perhatian manusia
penyelidikan tentang alam materi. Pada zaman primitif, nenek moyang kita disibukkan
untuk menundukkan atau menjinakkan alam sekitarnya, seperti upaya membuat senjatasenjata
melawan binatang-binatang buas, penemuan api, pertanian, peternakan, dan
sebagainya. Sehingga mereka tidak mempunyai waktu luang untuk memikirkan diri
mereka sebagai manusia. Demikian pula halnya pada zaman kebangkitan
1
2. Ciri khas akal manusia yang lebih cenderung memikirkan hal-hal yang tidak
kompleks. Ini disebabkan oleh sifat akal kita seperti yang dinyatakan oleh
Bergson tidak mampu mengetahui hakikat hidup.
3. Multikompleksnya masalah manusia.
Dari penjelasan diatas, agamawan dapat berkomentar bahwa pengetahuan tentang
manusia demikian itu disebabkan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang
dalam unsur penciptaanya diberi pengetahuan tentang ruh, kecuali sedikit
1
Untuk maksud tersebut tentu tidak cukup dengan hanya merujuk kepada satu dua
ayat, tetapi seharusnya merujuk kepada semua ayat Al-Quran
1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Kandungan Al-Baqarah Ayat 286 ?
2. Bagaimana Kandungan Ali imran Ayat 14 ?
3. Bagaimana Kandungan Surat Ar-Rum Ayat 20 ?
4. Bagaimana Kandungan Surat Ar-Rum Ayat 30 ?
C. Tujuan Pembahasan
1. Mengetahui Kandungan Al-Baqarah Ayat 286.
2. Mengetahui Kandungan Ali imran Ayat 14.
3. Mengetahui Kandungan Surat Ar-Rum Ayat 20.
4. Mengetahui Kandungan Surat Ar-Rum Ayat 30.
Muhammad Qurais Shihab, Wawasan Al-Quran; Tafsir Maudhu’i atas pelbagai persoalan umat,
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kandungan Surat Al-Baqarah Ayat 286
3
286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia
mendapat pahala
: merupakan fiil mudhori mabni fail dari fiil madhi ﻒﻠﻛ yang bermakna
membebani (
2
2
Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwwir,
: merupakan fiil madhi mabni fail muttasil bidhomir rofa’ ta’ muannatsah
ghoibah asluhu ﺐﺴﻛ bidhommiri huwa muqoddar yang bermakna memperoleh,
: merupakan ism mashdar dari fiil madhi قﺎط. Sedangkan maknanya
adalah mampu, kuat, kuasa.
4
Para Mufasirin sepakat bahwa lafadz dalam surat Al-Baqarah ini bermakna
seperti halnya lafadz
5
ﺎﮭﺘﻗﺎط sehingga kata tersebut dimaknai dengan mampu, kuat, kuasa.
Dalam tatanan kehidupan pasti terdapat suatu perkara yang tidak bisa dipisahkan
dengan manusia. Perkara tersebut yang biasa disebut dengan masalah
4
6
Hal ini senada dengan
penjelasan dari Ibnu ‘Abbas:
3080ﺻ ﻮﺑأ ﺎﻨﺛ ، ﻰﺑأ ﺎﻨﺛﺪﺣ سﺎﺒﻋ ﻦﺑا ﻦﻋ ، ﺔﺤﻠط ﻲﺑأ ﻦﺑ ﻲﻠﻋ ﻦﻋ ، ﺢﻟﺎﺻ ﻦﺑ ﮫﯾوﺎﻌﻣ ﺎﻨﺛﺪﺣ ، ﺢﻟﺎ
ﺎﻣ ﷲ لﺎﻘﻓ ﻢﮭﻨﯾد ﺮﻣا ﻢﮭﯿﻠﻋ ﷲ ﻊﺳو ، نﻮﻨﻣﺆﻤﻟا ﻢھ : لﺎﻗ ﺎﮭﻌﺳو ﻻا ﺎﺴﻔﻧ ﷲ ﻒﻠﻜﯾ ﻻ ، ﮫﻟﻮﻗ ﻲﻓ ،
ﺎﻣ ﷲ اﻮﻘﺗﺎﻓ : لﺎﻗ و ﺮﺴﻌﻟا ﻢﻜﺑ ﺪﯾﺮﯾ ﻻ و ﺮﺴﯿﻟا ﻢﻜﺑ ﷲ ﺪﯾﺮﯾ : لﺎﻗ و جﺮﺣ ﻦﻣ ﻦﯾﺪﻟا ﻲﻓ ﻢﻜﯿﻠﻋ ﻞﻌﺟ
ﻢﺘﻌﻄﺘﺳا
3
4
5
6
7
Ibid., h. 1206
Ibid., h. 872
Maktabah Syamilah, Tafsir Sam’ani Juz 1, h.288 . ﺎﮭﺘﻗﺎط : يأ
Tafsir Sulaiman Bin Makotil, Tafsir Makotil juz 1
Ibnu Abi Hatim Arrazi, tafsir ibn abi hatim juz 2,
3
7
Ibnu Abbas meriwayatkan khabar firman Allah, Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Beliau berpendapat, yang dimaksud
seseorang diatas adalah orang-orang mu’minin, Allah meluaskan bagi orang mu’min
perkara agama mereka, Allah berfirman Allah tidak menjadikan bagi kamu semua
kesempitan dalam urusan agama, Allah berfirman: Allah menginginkan kemudahan
bagimu dan tidak menginginkan kesulitan bagimu, dan Allah berfirman: bertaqwalah
kamu kepada Allah sesuai kemampuanmu.
Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang telah diturunkan kepadanya dari
Tuhanya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah,
Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Dan Rasul-Rasul-Nya.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia
mendapat pahala dan
8
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Jabir, dia berkata
Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 1, terj, Syihabuddin,
8
5
meminta, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupanya...” hingga akhir ayat ini.
Firman Allah Ta’ala, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai
dengan kesanggupanya.” Maksudnya, Allah tidak membebani seseorang di luar
kemampuanya. Hal ini merupakan kelembutan dan kebaikan Allah kepada hamba-Nya.
Ayat inilah yang menasakh dan menghapuskan ayat yang menimbulkan kepanikan para
sahabat, yaitu ayat, “Apabila kamu menampakkan atau menyembunyikan apa yang ada
pada dirimu, maka Allah akan memperhitungkannya.”Yakni,meskipun Allah
memperhitungkan dan meminta pertanggung jawaban, namun Dia tidak akan mengazab
kecuali menurut kapasitas yang dapat diberikan oleh individu. Dan, kebencian kepada
bisikan buruk merupakan keimanan.
Firman Allah Ta’a, “Ia mendapat pahala
9
Yakni jika kami meninggalkan kewajiban atau melakukan perbuatan haram karena
lupa, Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata bahwa Rasulullah saw.
Bersabda
ﺎﻄﺨﻟا ﻦﻋ ، ثﻼﺛ ﻦﻋ ﻲﺘﻣﻻ زوﺎﺠﺗ ﷲ ناء ﻚﻟذ تﺮﻛﺬﻓ : ﺮﻜﺑ ﻮﺑأ لﺎﻗ : هاﺮﻜﺘﺳﻻا و نﺎﯿﺴﻨﻟا و
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ummu Darda', dari Nabi saw. Beliau bersabda
9
10
Ibid., h. 475.
Ibid., h. 476.
6
10
Firman Allah Ta’ala, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami
beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami".
Maksudnya, janganlah Engkau membebankan kepada kami amal-amal yang berat,
meskipun kami sanggup melakukannya, seperti amal yang telah Engkau syariatkan
kepada umat-umat terdahulu sebelum kami, Seperti rantai dan belennggu yang mengikat
mereka. Dan, engkau telah mengutus Nabi-Mu sebagai nabi rahmat, dengan
dibebaskannya beban berat tersebut.
Dalam Shahih Muslim ditegaskan dari Ibnu Hurairah, dari Rasulullah saw. Bahwa
belliau bersabda (
Dalam sebuah hadits yang diterima melalui berbagai jalan dari Rasulullah,
bahwasanya beliau bersabda
Firman Allah, “Engkaulah penolong kami,” Engkaulah Pelindung kami dan
Pembantu kami. Kepada Engkaulah kami bertawakal. Engkaulah tempat meminta
pertolongan dan penyerahan diri. Tiada daya dan upaya melainkan atas pertolongan-Mu.
“Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” yang mengingkari agama-Mu,keesaan
-Mu, dan risalah Nabi-MU. Mereka malah menyembah selain- Mu. Maka tolonglah kami
11
Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 1, h. 476.
7
11
untuk mengaIahkan mereka. Jadikanlah kami sebagai penghukum mereka di dunia dan
akhirat. Maka Allah mengiyakan doa itu. Bahkan dalam hadits Muslim dari lbnu Abbas,
Allah menyakan, “Aku telah melakukannya.
Ibnu jarir meriwayatkan dari Muadz bin Jabal bahwa, apabila dia selesai membaca
surat "maka tolonglah kami untuk mengalahkan kaum kafir", dia berkata "amin". Waki'
juga meriwayatkan bahwa apabila Muadz selesai membaca surat al-Baqarah, maka dia
mengatakan "amin".
12
B. Kandungan Surat Ali imran Ayat 14
8
Dijadikan indah pada
: merupakan fiil madhi mabni maf’ul yang asalnya berupa lafadz ﻦﯾز yang
bermakna menghiasi, mempercantik.
12
13
Ibid., h. 477.
13
Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir,...., h. 598.
: merupakan bentuk jamak dari lafadz ﻦﺑا dari fiil madhi berupa lafadz ﻰﻨﺑ
yang bermakna Anak.
14
Allah Ta'ala memberitahukan berbagai jenis kelezatan yang dijadikan indah bagi
manusia dalam kehidupan dunia, yaitu wanita dan anak-anak. Allah memulai dengan
wanita karena ia merupakan fitnah paling berat. dalam kitab sahih ditegaskan bahwa
Rasulullah saw bersabda
9
ﻣ. ِءﺎَﺴِّ ﻨﻟا َﻦِﻣ ِلﺎ َﺟ ِّﺮﻟا ﻰَ ﻠَﻋ ﱠﺮَﺿَ أ ً ﺔَﻨْ ﺘِﻓ يِﺪْﻌَﺑ ُﺖْﻛ َﺮَ ﺗ ﺎ
“tiada aku tinggalkan fitnah, yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada
Jika keinginan terhadap wanita itu ditujukan untuk menjaga kesucian dan
memperoleh anak yang banyak, maka hal demikian bahkan diharapkan, disukai. dan
disunnahkan. Rasulullah saw. bersabda (
ﺎﮭﻨﻋ
“Dunia merupakan harta benda, dan harta benda yang paling baik adalah wanita yang
salehah. Jika dipandang, ia menyenangkannya, jika di suruh ia taat, jika ditinggal pergi
ia menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya" Nabi saw. bersabda (
ﺔﻣﺎﯿﻘﻟا مﻮﯾ ﻢﻣﻷا ﻢﻜﺑ ﺮﺛﺎﻜﻣ ﻲﻧﺈﻓ دﻮﻟﻮﻟا دودﻮﻟا اﻮﺟوﺰﺗ
“Kawinilah wanita yang mencintai kamu dan mampu beranak
Demikian pula dengan harta kekayaan. Kadang ia ditujukan untuk kemegahan dan
kesombongan. Hal demikian dicela. Dan kadang-kadang harta pun ditujukan untuk
diinfakkan kepada karib kerabat, sarana silaturahmi, dan untuk berbagai tujuan baik
14
Ibid., h. 113
lainnya. Harta demikian dipuji dan disanjung secara syara’. Para mufassir berikhtilaf
mengenai kadar qinthar. Namun, singkatnya qinthar berartiharta yang banyak. Ibnu Abi
Hatim meriwayatkan dari Anas dari Rasulullah saw.berkaitan dengan kata qinthar,
katanya (
Cinta kepada kuda dapat dibagi tiga. Pertama, cinta kepada kuda untuk digunakan
dalam berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berniat demikian, maka ia diberi
pahala. Kedua, kuda untuk tujuan kebanggaan dan kemegahan Bagi umat Islam. Orang
yang memilikinya berdosa, namun muslim lainya tidak. Dan ketiga, memelihara kuda
untuk tujuan pemeliharaan dan pemilikan keturunannya, dan dalam melakukannya ia
tidak melupakan hak Allah yang ada pada kuda. Kecintaan demikian dapat menutupi aib
pemiliknya.
15
Maksudnya Musawwamah ialah kuda yang yang pada dahinya atau pergelangan
kakinya ada warna putih. Dan ada pula pendapat lainnya. Imam Ahmad meriwayatkan
dari Suwaid bin Hubairah, dari Nabi saw.
10
لﺎﻣ ﺮﯿﺧاﺮﻣى
Sebaik-baik harta seseorang ialah kuda
Firman Allah "binatang ternak" seperti unta, sapi, dan kambing. "Dan sawah
ladang" yakni tanah yang digunakan untuk bercocok tanam. Kemudian Allah Ta'ala
berfirman, "Itulah kesenangan kehidupan dunia," yakni sesungguhnya ini merupakan
kembang kehidupan dunia dan keindahannya yang fana dan cepat sirna. "Dan pada sisi
Allahlah tempat kembali yang baik," yakni tempat kembali dan pahala yang baik.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Umar bin Khaththab demikian: Setelah ayat "dijadikan
indah bagi manusia kecintaan kepada yang diinginkan " ini turun Umar berkata, "Ya
Tuhanku, tanggguhkan keindahannya bagi kami." maka diturunkan ayat, "Katakanlah,
Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?"
Katakanlah, hai Muhammad, kepada manusia, "Aku akan memberitahukan kepadamu
perkara yang lebih baik darpadai yang dijadikan indah bagi manusia dalam kehidupan
15
Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 1, ...,h. 491-492.
dunia ini berupa kenikmatan yang pasti cepat sirna." Kemudian Allah memberitahukan,
bagi orang-orang yanng bertakwa, pada sisi Tuhannnya ada surga yang mengalir banyak
sungai yang berisi bermmacam-macam jenis minuman, seperti madu, susu, khamar, air
segar dan sebagainnya yang belum dilihat mmata, didengar teliinga, dan belum pernah
terpikirkan keadaanya oleh seoranng manusiapun. "Sedang mereka kekal di dalamnya,"
yakni menetap di dalamnya untuk selama-lamanya.
"Dan istri-istri yang disucikan” dari kotoran, haid,dan nifas. “Dan keridhaan Allah.”
Maksudnya, keridhaan Allah menyelimuti mereka. Sesudah itu, Dia tidak akan murka
lagi kepada mereka untuk selarnanya. Hal ini seperti firman Allah, “Dan keridhaan Allah
itu lebih besar” nilainya daripada kenikmatan abadi yang diberikan kepada mereka.
Kemudian Allah berfirman, “Dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.”
Artinya, setiap individu diberi bagian yang sesuai dengan haknya masing-masing.
Ketika al-Qur’an mengakui dan menegaskan adanya kecintaan kepada syahwatsyahwat
itu, atau dengan kata lain dorongan-dorongan untuk melakukan aktivitas kerja,
maka dorongan itu harus lebih besar yakni memperoleh apa yang berada di sisi Allah.
Karena itu, ayat di atas diakhiri dengan pernyataan wallahu indahu khusnul ma’ab
Sekali lagi, kalau syahwat di atas digunakan sebagaiman digariskan oleh Allah swt
serta sesuai tujuan Nya memperindah, maka semuanya disebut di atas adalah baik. Yang
mencintai lawan seksnya, bahkan melakukan hubungan seks demi memelihara diri dan
memperoleh keturunan, bukan saja tidak berdosa tapi malah mendapat pahala.
Kalau yang memeperindahnya adalah setan, maka syahwat-syahwat tersebut menjadi
tujuan. Ia diupayakan dan dimanfaatkan untuk tujuan di sini dan sekarang, di dunia ini,
bukan di akhirat kelak. Misalnya jika setan memperindah kecintaan pada seks, maka
sudah tidak memandang lagi sebagai tujuan, yang penting melampiaskan walaupun
dengan cara kotor. Hal inilah yang tidak dikendaki oleh Allah dan bukan itu tujuan Allah
memperindah syahwat untuk manusia.
16
17
17
Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 1, h. 492-493.
http://buntexz.blogspot.com diakses tanggal 12 maret 2014, pukul 07.27
11
16
C. Kandungan Surat Ar-Rum Ayat 20
20. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah,
kemudian tiba-tiba kamu (
: merupakan ism mashdar yang diambil dari fiil madhi berupa lafadz ﺮﺸﺑ
yang bermakna menngupas, memerhatikan, merasa senang.
12
18
Namun yang sesuai dengan
konteks ini yaitu bermakna manusia.
19
Allah ta’ala berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya” yang
menunjukkan kepada kebesaran dan kesempurnaan kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan bapak kamu Adam dari tanah,”kemudian tiba-tiba kamu menjadi manusia
yang berkembang biak.” Jadi asal-muasalmu dari tanah, kemudian dari air yang hina
18
19
20
Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwwir,...., h. 85
Ibid., h. 86.
Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 3, terj, Syihabbudin,
20
12. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati
13. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani
14. kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami
jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk
yang
Di dalam ayat-ayat itu jelas terlihat bahwa Tuhan menciptakan manusia tidak
sekaligus, melainkan secara berevolusi mulai dari saripati tanah, terus nutfah, darah,
daging, akhirnya menjadi manusia yang utuh setelah itu baru ditiupkan ruh. Kesimpulan
ini di dukung oleh firman Allah di dalam surat Nuh ayat 14:
sesungguhnya Dia
13
21
Firman Allah Ta’ala, “kemudian tiba-tiba kamu
21
22
22
Nashruddin Baidan, Tafsir Maudhu’i,
http://buntexz.blogspot.com diakses tanggal 12 maret 2014, pukul 07.27.
D. Kandungan Surat Ar-Rum Ayat 30
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah;
: merupakan ism fail dari fiil madhi ﻒﻨﺣ yang bermakna yang lurus.
Allah Ta'ala berfirman, luruskanlah wajahmu dan senantiasa tetaplah di dalam
agamamu, yaitu agama Ibrahim yang hanif, agama yang ditunjukkan Allah kepadamu,
serta disempurnakannya bagimu dengan sesempurna mungkin. Di sampiing itu, tetap
teguhlah kamu di dalam fitrahmu yang baik. Allah telah menciptakan makhluk di atas
fitrah itu. Karena sesungguhnya Allah ta'ala telah menciptakan manusia dalam keadaan
memiliki potensi untuk mengetahui Nya, mengesakan Nya, dan mengakui bahwa tidak
ada tuhan melainkan Dia. Hal ini telah dikemukakan tatkala menafsirkan ayat "Dan Allah
mengambil kesaksian mereka atas diri mereka sendiri, 'bukankah aku Tuhanmu? Mereka
menjawab, Benar.' "
23
ْﻢ ِﮭِﻨﯾ ِد ْﻦَﻋ ُﻦﯿ ِطﺎَﯿ ﱠﺸﻟا ْﻢُﮭْ ﺘَﻟﺎَ ﺘ ْﺟﺎَﻓ ، ْﻢُﮭﱠ ﻠُﻛ َءﺎَﻔَﻨ ُﺣ َي ِدﺎَﺒ ِﻋ ُﺖْﻘَﻠ َﺧ ﻲِّ ﻧِإ
Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwwir,...., h. 303
14
23
"Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif
15
24
Secara umum kata fitrah digunakan untuk penciptaan awal. Firah manusia adalah
kejadianya sejak semula atau bawaan sejak lahirnya. Adapun fitrah dalam pengertian
khusus menurut agama
Firman Allah Ta'ala, "Tidak ada perubahan pada fitrah Allah." tidak ada
perubahan atas Dinul islam yang menjadi landasan penciptaan manusia.
Imam Ahmad meriwayatkan bahwa al-Aswad bin Sai'at Taimi berkata,
ﷲ لﻮﺳر ﻚﻟذ ﻎﻠﺒﻓ ﺔﯾرﺬﻟا
ﻻ ﻻأ لﺎﻗ ﻢﺛ ﻦﯿﻛﺮﺸﻤﻟا ءﺎﻨﺑأ ﻢﻛرﺎﯿﺧ نأ ﻻأ لﺎﻘﻓ ﻦﯿﻛﺮﺸﻤﻟا دﻻوأ ﻢھ ﺎﻤﻧإ ﺔﯾرذ اﻮﻠﺘﻘﺗ ﻻ ﻻأ ﺔﯾرذ اﻮﻠﺘﻘﺗ
ﺎﮭﻧاﺮﺼﻨﯾو ﺎﮭﻧادﻮﮭﯾ ﺎھاﻮﺑﺄﻓ ﺎﮭﻧﺎﺴﻟ ﺎﮭﻨﻋ
"Aku menjumpai Rasulullah saw., lalu aku berpegang bersama beliau. Akupun
mendapat kemenangan. Pada saat itu orang orang pergi berperang lalu mereka
membunuh anak-anak. Kejadian ini sampai kepada Rasulullah saw., maka beliau
bersabda, 'mengapa orang-orang itu melamapaui batas hingga membunuh anak-anak?'
seseorang berkata, wahai Rasulullah,bukanah anak-anak itu adalah kaum musyrik?
Beliau bersabda, Bukan egitu. Orang-orang yang baik di antara kamu pun semula
merupakan anak kaum musyrik. Kemudian beliau memerintahkan, 'jangan membunuh
anak-anak! Jangan membunuh anak-anak! Setiap diri dilahirkan dalam keadaan fitrah,
24
25
Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 3,..., h. 765.
http://buntexz.blogspot.com diakses tanggal 12 maret 2014, pukul 07.27
25
sehinngga lisannya menyimpang dari fitrah itu maka kedua orang tuanyalah yang
menjadikannya yahudi dan nasrani" (
Firman Allah ta'ala, "Itulah agama yang lurus" Berpegang teguh kepada syariat
dan fitrah yang selamat merupakan agama yang teguh dan lurus "Namun kebanyakan
manusia tidak mengetahui" agama itu. Penggalan ini seperti firman Allah ta'ala, "Dan
mayoritas manusia tidaklah beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya."
26
Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 3, ..., h. 765-766.
16
26
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 286 dijelaskan bahwa Allah Zat yang Maha Luas dan Maha
Pemurah, sebagaimana Dia telah meluaskan Potensi Manusia dengan berbagai masalah
yang dihadapi manusia serta memberikan kemudahan kepada manusia atas segala
masalah yang diturunkan-Nya yakni Allah mengetahui batas kemampuan manusia secara
rinci antara satu dengan yang lainya di seluruh belahan dunia, lalu Allah menurunkan
masalah antara satu dengan yang lainnya sesuai dengan takaran-takaran yang di mampui
manusia.
Dalam Surat Ali imran Ayat 14 Allah menjadikan manusia mempunyai kesenangan serta
memberitahukan tentang perkara-perkara kesenangan di Dunia, jikalau mereka
menggunakan kesenangannya sesuai dengan perintah-Nya dan menjauhi Larangan-Nya
maka dia akan mendapatkan tempat kembali yang baik (
17
digunakan untuk penciptaan awal. Fitrah manusia adalah kejadianya sejak semula atau
bawaan sejak lahirnya.
18
DAFTAR PUSTAKA
Abi Hatim Arrazi, Ibnu. tafsir ibn abi hatim juz 2,
Baidan, Nashruddin. Tafsir Maudhu’i,
http://buntexz.blogspot.com diakses tanggal 12 maret 2014, pukul 07.27.
Maktabah Syamilah, Tafsir Sam’ani Juz 1
Nasib Ar-Rifa’i, Muhamad. RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 1, terj, Syihabuddin,
Nasib Ar-Rifa’i, Muhamad. RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 3, terj, Syihabbudin,
Qurais Shihab, Muhammad. Wawasan Al-Quran; Tafsir Maudhu’i atas pelbagai
persoalan umat,
Tafsir Sulaiman Bin Makotil, Tafsir Makotil juz 1
Warson Munawwir, Ahmad. Kamus Al-Munawwwir,
19
Ini adalah blog biasa milik seorang anak yang berkeadaan miskin ilmu, pengalaman, perhatian, dan harta. namun tak pernah melunturkan diri untuk terus bermimpi dan berimajinasi.
Sabtu, 15 Maret 2014
Jumat, 14 Maret 2014
Tafsir Tentang Manusia By Nawawi
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Manusia dalam bukunya Man
the Unknown, Dr. A. Carrel menjelaskan tentang kesukaran yang dihadapi untuk
mengetahui hakikat manusla. Dia mengatakan babwa pengetahuan tentang
makhluk-makhluk hidup secara umum dan manusia khususnya belum lagi mencapai
kemajuan seperti yang telah dicapai dalam bidang Ilmu pengetahuan Iainnya.
Selanjutnya la menulis:
Sebenarnya manusia telah mencurahkan
perhatian dan usaha yang sangat besar untuk mengetahui dirinya, kendatipun kita
memiliki perbendaharaan yang cukup banyak dan hasil peneiltian para ilmuwan,
filosof, sastrawan, dan para ahli di bidang keruhanian sepanjang masa ini. Tapi
kita (manusia) hanya mampu mengetahui beberapa segi tertentu dari diri kita.
Kita tidak mengetahui manusia secara utuh. Yang kita ketahui hanyalah bahwa
manusia terdiri dari bagian-bagian tertentu, dan ini pun pada hakikatnya dibagi
lagi menurut tata cara kita sendiri. Pada hakikatnya, kebanyakan
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mereka yang mempelari manusia kepada
diri mereka hingga kini maslh tetap tanpa jawaban.
Keterbatasan pengetahuan manusla tentang
dirinya itu disebabkan oleh:
- Pembahasan
tentang masalah manusla terlambat
karena pada mulanya perhatian manusia
penyelidikan tentang alam materi. Pada zaman
primitif, nenek moyang kita disibukkan untuk menundukkan atau menjinakkan alam
sekitarnya, seperti upaya membuat senjata-senjata melawan binatang-binatang
buas, penemuan api, pertanian, peternakan, dan sebagainya. Sehingga mereka
tidak mempunyai waktu luang untuk memikirkan diri mereka sebagai manusia.
Demikian pula halnya pada zaman kebangkitan (Renaisans) ketika para ahli
digiurkan oleh penemuan-penemuan baru mereka yang disamping menghasilkan
keuntungan material, juga menyesampingkan publik secara umum karena
penemuan-penemuan tersebut mempermudah dan mempermudah kehidupan ini.
- Ciri khas akal manusia yang lebih cenderung
memikirkan hal-hal yang tidak kompleks. Ini disebabkan oleh sifat akal
kita seperti yang dinyatakan oleh Bergson tidak mampu mengetahui hakikat
hidup.
- Multikompleksnya masalah manusia.
Dari penjelasan diatas,
agamawan dapat berkomentar bahwa pengetahuan tentang manusia demikian itu
disebabkan karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang dalam unsur
penciptaanya diberi pengetahuan tentang ruh, kecuali sedikit (QS Al-Isra' [17];
85).[1]
Untuk maksud tersebut tentu
tidak cukup dengan hanya merujuk kepada satu dua ayat, tetapi seharusnya
merujuk kepada semua ayat Al-Quran (atau paling tidak ayat-ayat pokok). Ayat-ayat
di bawah ini akan dibahas beberapa tafsiran dengan tema tentang manusia dalam
perspektif mufassir Al-Quran.
- Rumusan Masalah
- Bagaimana Kandungan Al-Baqarah Ayat 286 ?
- Bagaimana Kandungan Ali imran Ayat 14 ?
- Bagaimana Kandungan Surat Ar-Rum Ayat 20 ?
- Bagaimana Kandungan Surat Ar-Rum Ayat 30 ?
- Tujuan Pembahasan
- Mengetahui Kandungan Al-Baqarah Ayat 286.
- Mengetahui Kandungan Ali imran Ayat 14.
- Mengetahui Kandungan Surat Ar-Rum Ayat 20.
- Mengetahui Kandungan Surat Ar-Rum Ayat 30.
BAB II
PEMBAHASAN
- Kandungan Surat Al-Baqarah Ayat 286
w ß#Ïk=s3ã ª!$# $²¡øÿtR wÎ) $ygyèóãr 4 $ygs9 $tB ôMt6|¡x. $pkön=tãur $tB ôMt6|¡tFø.$# 3 $oY/u w !$tRõÏ{#xsè? bÎ) !$uZÅ¡®S ÷rr& $tRù'sÜ÷zr& 4 $oY/u wur ö@ÏJóss? !$uZøn=tã #\ô¹Î) $yJx. ¼çmtFù=yJym n?tã úïÏ%©!$# `ÏB $uZÎ=ö6s% 4 $uZ/u wur $oYù=ÏdJysè? $tB w sps%$sÛ $oYs9 ¾ÏmÎ/ ( ß#ôã$#ur $¨Ytã öÏÿøî$#ur $oYs9 !$uZôJymö$#ur 4 |MRr& $uZ9s9öqtB $tRöÝÁR$$sù n?tã ÏQöqs)ø9$# úïÍÏÿ»x6ø9$# ÇËÑÏÈ
286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia
mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya
Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya
Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana
Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah
Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma'aflah
kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka
tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir."
#Ïk=s3ã :
merupakan fiil mudhori mabni fail dari fiil madhi كلف yang bermakna membebani
(Tugas, Beban berat).[2]
Mt6|¡x. :
merupakan fiil madhi mabni fail muttasil bidhomir rofa’ ta’ muannatsah ghoibah
asluhu كسب bidhommiri huwa muqoddar yang bermakna memperoleh,[3]
ps%$sÛ :
merupakan ism mashdar dari fiil madhi طاق. Sedangkan
maknanya adalah mampu, kuat, kuasa.[4]
Para
Mufasirin sepakat bahwa lafadz $ygyèóãr dalam surat Al-Baqarah ini bermakna seperti halnya
lafadz طاقتها[5] sehingga kata tersebut dimaknai dengan mampu,
kuat, kuasa.
Dalam
tatanan kehidupan pasti terdapat suatu perkara yang tidak bisa dipisahkan
dengan manusia. Perkara tersebut yang biasa disebut dengan masalah (problem),
kadang suatu problem muncul tiba-tiba kapanpun dan dimanapun kita berada.
Berbagai masalahpun kadang-kadang memParasit kesabaran kita sehingga
berakibat tingkah negatif, namun kadang justru hadirnya problem dalam suatu
kehidupan menjadi batu loncatan untuk meraih hasil positif, hal ini disebabkan mereka
tahu bahwa masalah pasti bisa diselesaikan seperti halnya Angin Berlalu, sebab Allah tidak memberatkan manusia dari amal(perbuatan)
melainkan sesuai dengan kemampuanya.[6]
Hal ini senada dengan penjelasan dari Ibnu ‘Abbas:
3080
حدثنا أبى ، ثنا أبو صالح ، حدثنا معاويه بن صالح ، عن علي بن أبي طلحة ، عن ابن
عباس ، في قوله ، لا يكلف الله نفسا الا وسعها قال : هم المؤمنون ، وسع الله عليهم
امر دينهم فقال الله ما جعل عليكم في الدين من حرج و قال : يريد الله بكم اليسر و
لا يريد بكم العسر و قال : فاتقوا الله ما استطعتم[7]
Ibnu Abbas meriwayatkan khabar firman Allah, Allah tidak
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Beliau berpendapat,
yang dimaksud seseorang diatas adalah orang-orang mu’minin, Allah meluaskan
bagi orang mu’min perkara agama mereka, Allah berfirman Allah tidak menjadikan
bagi kamu semua kesempitan dalam urusan agama, Allah berfirman: Allah
menginginkan kemudahan bagimu dan tidak menginginkan kesulitan bagimu, dan
Allah berfirman: bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai kemampuanmu.
Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang telah diturunkan kepadanya dari
Tuhanya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah,
Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Dan Rasul-Rasul-Nya. (Mereka
mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang
lain) dari Rasul-Rasul-Nya dan mereka mengatakan “kami dengar dan kami taat.”
(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, ampunilah kami, dan kepada Engkaulah tempat
kami kembali.”(285)
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya. Ia mendapat pahala dan (kebajikan) yang diusahakannva Dan ia
mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), “Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami khilaf. Ya
Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana
Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah
Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah
kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka
tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (286).[8]
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Jabir, dia berkata (459), “Tatkala
ayat Rasul telah beriman... dan kepada Engkaulah tempat kami kembali itu
diturunkan kepada Rasulullah saw., maka Jibril berkata, ‘Sesungguhnya Allah
telah memujimu dan umatmu dengan pujian yang baik, maka mintalah kepada-Nya niscaya
Dia memberi. Maka beliau meminta, “Allah tidak membebani seseorang melainkan
sesuai dengan kesanggupanya...” hingga
akhir ayat ini.
Firman Allah Ta’ala, “Allah tidak membebani
seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupanya.” Maksudnya, Allah tidak membebani seseorang di luar
kemampuanya. Hal ini merupakan kelembutan dan kebaikan Allah kepada hamba-Nya.
Ayat inilah yang menasakh dan menghapuskan ayat
yang menimbulkan kepanikan para sahabat, yaitu ayat, “Apabila kamu
menampakkan atau menyembunyikan apa yang ada pada dirimu, maka Allah akan
memperhitungkannya.”Yakni,meskipun Allah memperhitungkan dan meminta
pertanggung jawaban, namun Dia tidak akan mengazab kecuali
menurut kapasitas yang dapat diberikan
oleh individu. Dan, kebencian kepada bisikan buruk merupakan keimanan.
Firman Allah Ta’a, “Ia mendapat pahala (dari
kebajikan) yang diusahakanya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang
dikerjakannya“ itulah konsekuensi dari
taklif. Kemudian Allah Ta’ala berfirman sebagai bimbingan kepada hamba-Nya ihwal cara memohon
kepada-Nya, “Ya Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau
kami khilaf."[9]
Yakni jika kami meninggalkan kewajiban atau melakukan
perbuatan haram karena lupa, Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia
berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda (460), sesunggguhnya Allah
menghapuskan dosa umatku yang di timbulkan karena kesalahan, lupa, atau
dipaksa. Hadits yang sama
diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban, Auza'i, dan Thabrani
ان
الله تجاوز لامتي عن ثلاث ، عن الخطاء و النسيان و الاستكراه : قال أبو بكر :
فذكرت ذلك للحسن فقال : اجل ، ما تقرا بذلك قرانا ؟ ربنا لا تؤاخذنا ان نسينا أو
اخطانا (رواه ابن أبي تم)
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ummu Darda', dari Nabi
saw. Beliau bersabda (461,) “Sesungguhnya Allah memaafkan kesalahan umatku tiga Perkara: Kesalahan yang tidak disengaja, lupa, dan dipaksa, “(HR Ibnu
Abi Hatim).[10]
Firman Allah Ta’ala, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada
orang-orang sebelum kami". Maksudnya,
janganlah Engkau membebankan kepada kami amal-amal yang berat, meskipun kami
sanggup melakukannya, seperti amal yang telah Engkau syariatkan kepada
umat-umat terdahulu sebelum kami, Seperti rantai dan belennggu yang mengikat
mereka. Dan, engkau telah mengutus Nabi-Mu sebagai nabi rahmat, dengan
dibebaskannya beban berat tersebut.
Dalam Shahih Muslim ditegaskan dari Ibnu Hurairah, dari
Rasulullah saw. Bahwa belliau bersabda (463), "Allah berfirman, 'Ya Aku
telah melakukannya.'"[11]
Dalam sebuah hadits yang diterima melalui berbagai jalan
dari Rasulullah, bahwasanya beliau bersabda (464), "saya diutus membawa
agama hanif yang toleran." Firman Allah, "Ya Tuhan kami,
janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya,"
berupa kewajiban, musibah, dan cobaan. Janganlah engkau menguji kami dengan
sesuatu yang tak dapat kami tahan. Firman Allah, "Maafkanlah kami"
dari kesalahan yang ada antara kami dan
engkau serta keteledoran dan kekhilafan kami yang Kau-ketahui. "Ampunilah
kami” atas kesalahan yang terjadi diantara kami.
janganlah Kau-perlihatkan kejelekan dan keburukan kami kepada orang lain. "Dan
Rahmatilah kami" Dengan sesuatu yang berhak kamidan janganlah Kau
jerumuskan kami ke dosa lain. Karenannya, ulama, mengatakan, pelaku dosa
memerlukan tiga perkara: ampunan Allah atas dosa yang ada antara dia dan
Tuhannya, Perahasiaan kesalahan dari orang lain dan tidak dipertontonkan kepada
mereka, dan pemeliharaan agar dia tak terjerumus ke dalam dosa yang sama. telah
dikemukakan dua hadits yang menyatakan bahwa Allah telah menyetujui dan
mengabulkan doa tersebut.
Firman Allah, “Engkaulah penolong kami,” Engkaulah
Pelindung kami dan Pembantu kami. Kepada Engkaulah kami bertawakal. Engkaulah
tempat meminta pertolongan dan penyerahan diri. Tiada daya dan upaya melainkan
atas pertolongan-Mu. “Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” yang
mengingkari agama-Mu,keesaan -Mu, dan risalah Nabi-MU. Mereka malah menyembah
selain- Mu. Maka tolonglah kami untuk mengaIahkan mereka. Jadikanlah kami
sebagai penghukum mereka di dunia dan akhirat. Maka Allah mengiyakan doa itu.
Bahkan dalam hadits Muslim dari lbnu Abbas, Allah menyakan, “Aku telah
melakukannya.
Ibnu jarir meriwayatkan dari Muadz bin Jabal bahwa, apabila dia selesai membaca
surat "maka tolonglah kami untuk mengalahkan kaum kafir", dia berkata
"amin". Waki' juga meriwayatkan bahwa apabila Muadz selesai
membaca surat al-Baqarah, maka dia mengatakan "amin".[12]
- Kandungan Surat
Ali imran Ayat 14
z`Îiã Ĩ$¨Z=Ï9 =ãm ÏNºuqyg¤±9$# ÆÏB Ïä!$|¡ÏiY9$# tûüÏZt6ø9$#ur ÎÏÜ»oYs)ø9$#ur ÍotsÜZs)ßJø9$# ÆÏB É=yd©%!$# ÏpÒÏÿø9$#ur È@øyø9$#ur ÏptB§q|¡ßJø9$# ÉO»yè÷RF{$#ur Ï^öysø9$#ur 3 Ï9ºs ßì»tFtB Ío4quysø9$# $u÷R9$# ( ª!$#ur ¼çnyYÏã ÚÆó¡ãm É>$t«yJø9$# ÇÊÍÈ
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada
apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari
jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang
baik (surga).
`Îiã : merupakan fiil madhi mabni maf’ul yang asalnya berupa
lafadz زين yang bermakna menghiasi, mempercantik.[13]
ûüÏZt6ø9$#u : merupakan bentuk jamak dari lafadz ابن dari fiil
madhi berupa lafadz بنى yang bermakna Anak.[14]
Allah Ta'ala memberitahukan berbagai jenis kelezatan yang
dijadikan indah bagi manusia dalam kehidupan dunia, yaitu wanita dan anak-anak.
Allah memulai dengan wanita karena ia merupakan fitnah paling berat. dalam
kitab sahih ditegaskan bahwa Rasulullah saw bersabda (476)
ما تَرَكْتُ
بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ.
“tiada aku tinggalkan fitnah, yang lebih berbahaya bagi
kaum laki-laki daripada (fitnab) wanita.”
Jika keinginan terhadap wanita itu ditujukan untuk
menjaga kesucian dan memperoleh anak yang banyak, maka hal demikian bahkan
diharapkan, disukai. dan disunnahkan. Rasulullah saw. bersabda (477),
الدنيا متاع
وخير متاع الدنيا المرأة الصالحة إن نظر إليها سرته وإن مرها أطاعته وإن غغاب
عنها حفظته في نفسها
“Dunia merupakan harta benda, dan harta benda yang paling
baik adalah wanita yang salehah. Jika dipandang, ia
menyenangkannya, jika di suruh ia taat,
jika ditinggal pergi ia menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya" Nabi saw. bersabda (478),
تزوجوا الودود الولود
فإني مكاثر بكم الأمم يوم القيامة
“Kawinilah wanita yang mencintai kamu dan mampu beranak (subur) karena
aku akan membangggakan kamu sebagai umat terbanyak pada hari kiamat”
Demikian pula dengan harta kekayaan. Kadang ia ditujukan
untuk kemegahan dan kesombongan. Hal demikian dicela. Dan kadang-kadang harta
pun ditujukan untuk diinfakkan kepada karib kerabat, sarana silaturahmi, dan
untuk berbagai tujuan baik lainnya. Harta demikian dipuji dan disanjung secara
syara’. Para mufassir berikhtilaf mengenai kadar qinthar. Namun, singkatnya
qinthar berartiharta yang banyak. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Anas dari
Rasulullah saw.berkaitan dengan kata qinthar, katanya (479), “Harta senilai
seribu dinar.”
Cinta kepada kuda
dapat dibagi tiga. Pertama, cinta kepada kuda untuk digunakan dalam berperang
di jalan Allah. Barangsiapa yang berniat demikian, maka ia diberi pahala.
Kedua, kuda untuk tujuan kebanggaan dan kemegahan Bagi umat Islam. Orang yang
memilikinya berdosa, namun muslim lainya tidak. Dan ketiga, memelihara kuda untuk tujuan pemeliharaan dan
pemilikan keturunannya, dan dalam
melakukannya ia tidak melupakan hak Allah yang ada pada kuda. Kecintaan demikian
dapat menutupi aib pemiliknya.[15]
Maksudnya
Musawwamah ialah kuda yang yang
pada dahinya atau pergelangan kakinya ada warna
putih. Dan ada pula pendapat lainnya. Imam Ahmad meriwayatkan dari
Suwaid bin Hubairah, dari Nabi saw. (480),
خير مال امرىء له مهرة مأمورة أو سكة
مأبورة
Sebaik-baik harta seseorang
ialah kuda (keledai) yang banyak beranak dan pohonn kurma unggul yang berbuah
lebat." (HR
Ahmad)
Firman
Allah "binatang ternak" seperti unta, sapi, dan kambing. "Dan
sawah ladang" yakni tanah yang digunakan untuk bercocok tanam.
Kemudian Allah Ta'ala berfirman, "Itulah kesenangan kehidupan
dunia," yakni sesungguhnya ini merupakan kembang kehidupan dunia dan
keindahannya yang fana dan cepat sirna. "Dan pada sisi Allahlah tempat
kembali yang baik," yakni tempat kembali dan pahala yang baik.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari
Umar bin Khaththab demikian: Setelah ayat "dijadikan indah bagi manusia
kecintaan kepada yang diinginkan " ini turun Umar berkata, "Ya
Tuhanku, tanggguhkan keindahannya bagi kami." maka diturunkan ayat, "Katakanlah,
Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian
itu?" Katakanlah, hai Muhammad, kepada manusia, "Aku akan
memberitahukan kepadamu perkara yang lebih baik darpadai yang dijadikan indah
bagi manusia dalam kehidupan dunia ini berupa kenikmatan yang pasti cepat
sirna." Kemudian Allah memberitahukan, bagi orang-orang yanng
bertakwa, pada sisi Tuhannnya ada surga yang mengalir banyak sungai yang berisi
bermmacam-macam jenis minuman, seperti madu, susu, khamar, air segar dan
sebagainnya yang belum dilihat mmata, didengar teliinga, dan belum pernah
terpikirkan keadaanya oleh seoranng manusiapun. "Sedang mereka kekal di
dalamnya," yakni menetap di dalamnya untuk selama-lamanya.
"Dan istri-istri yang
disucikan”
dari kotoran, haid,dan nifas. “Dan keridhaan Allah.” Maksudnya,
keridhaan Allah menyelimuti mereka. Sesudah itu, Dia tidak akan murka lagi
kepada mereka untuk selarnanya. Hal ini seperti firman Allah, “Dan keridhaan
Allah itu lebih besar” nilainya daripada kenikmatan abadi yang diberikan kepada
mereka. Kemudian Allah berfirman, “Dan Allah Maha melihat akan
hamba-hamba-Nya.” Artinya, setiap individu diberi bagian yang sesuai dengan
haknya masing-masing.[16]
Ketika al-Qur’an mengakui dan menegaskan adanya kecintaan
kepada syahwat-syahwat itu, atau dengan kata lain dorongan-dorongan untuk
melakukan aktivitas kerja, maka dorongan itu harus lebih besar yakni memperoleh
apa yang berada di sisi Allah. Karena itu, ayat di atas diakhiri dengan
pernyataan wallahu indahu khusnul ma’ab (di sisi Allah terdapat
kesudahan yang baik).
Sekali lagi, kalau syahwat di atas digunakan sebagaiman
digariskan oleh Allah swt serta sesuai tujuan Nya memperindah, maka semuanya
disebut di atas adalah baik. Yang mencintai lawan seksnya, bahkan melakukan
hubungan seks demi memelihara diri dan memperoleh keturunan, bukan saja tidak
berdosa tapi malah mendapat pahala.
Kalau yang memeperindahnya adalah setan, maka
syahwat-syahwat tersebut menjadi tujuan. Ia diupayakan dan dimanfaatkan untuk
tujuan di sini dan sekarang, di dunia ini, bukan di akhirat kelak. Misalnya
jika setan memperindah kecintaan pada seks, maka sudah tidak memandang lagi
sebagai tujuan, yang penting melampiaskan walaupun dengan cara kotor. Hal
inilah yang tidak dikendaki oleh Allah dan bukan itu tujuan Allah memperindah
syahwat untuk manusia.[17]
C. Kandungan
Surat Ar-Rum Ayat 20
ô`ÏBur
ÿ¾ÏmÏG»t#uä ÷br& Nä3s)n=s{
`ÏiB 5>#tè?
¢OèO !#sÎ) OçFRr& Öt±o0 crçųtFZs? ÇËÉÈ
20. dan di
antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah,
kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.
Öt±o0 : merupakan ism mashdar yang diambil dari fiil madhi
berupa lafadz بشر yang bermakna menngupas,
memerhatikan, merasa senang.[18]
Namun yang sesuai dengan konteks ini yaitu bermakna manusia.[19]
Allah ta’ala berfirman, “Dan
di antara tanda-tanda kekuasaanNya” yang menunjukkan kepada kebesaran dan
kesempurnaan kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bapak kamu Adam dari tanah,”kemudian
tiba-tiba kamu menjadi manusia yang berkembang biak.” Jadi asal-muasalmu dari
tanah, kemudian dari air yang hina (mani), kemudian berevolusi menjadi
segiumpal darah, menjadi segumpal daging, dan menjadi tulang yang kemudian
tulang-tulang itu dibunngkus dengan daging, kemudian ditiupkan ke dalamnya ruh
sehingga dia menjadi makhluk yang dapat mendengar dan melihat. Kemudian dia
lahir sebagai makhluk kecil yang lemah. Kemudian kekuatannya menjadi sempurna sehingga
dia dapat membangun kota, benteng, dan merambah di berbagai wilayah bumi baik
di daratan maupun di lautan dalam rangka mencari rezeki. Dia memiliki
pemahaman, pikiran dan ilmu pengetahuan mengenai persoalan dunia dan Akhirat. Maka Mahasuci Yang menakdirkan,
memperjalankan, dan memungkikan mereka bekerja dalam berbagai bentuk mata pencaharian.
Diantara mereka terdapat perbedaan daalam hal postur, ilmu pengetahuan,
kelapangan, dan kesulitan.[20]
ôs)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7's#»n=ß `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ §NèO çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR Îû 9#ts% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ ¢OèO $uZø)n=yz spxÿôÜZ9$# Zps)n=tæ $uZø)n=ysù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=ysù sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù't±Sr& $¸)ù=yz tyz#uä 4 x8u$t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sø:$# ÇÊÍÈ
12. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu
saripati (berasal) dari tanah.
13. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
14. kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah,
lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu
Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan
daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha
sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
Di dalam ayat-ayat itu jelas terlihat bahwa
Tuhan menciptakan manusia tidak sekaligus, melainkan secara berevolusi mulai
dari saripati tanah, terus nutfah, darah, daging, akhirnya menjadi
manusia yang utuh setelah itu baru ditiupkan ruh. Kesimpulan ini di dukung oleh
firman Allah di dalam surat Nuh ayat 14: ôs%ur ö/ä3s)n=s{ #·#uqôÛr& (Dan sesungguhnya Dia (Allah) telah menciptakan kamu dengan
berevolusi).[21]
Firman
Allah Ta’ala, “kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang
biak.” Bisa
diartikan berkembang biak, akibat hubungan seks atau bertebaran mencari rezeki.
Kedua hal ini tidak dilakukan oleh manusia kecuali oleh orang yang memiliki
kedewasaan dan tanggung jawab.[22]
D. Kandungan
Surat Ar-Rum Ayat 30
óOÏ%r'sù
y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9
$ZÿÏZym 4
|NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$#
tsÜsù }¨$¨Z9$# $pkön=tæ
4
w @Ïö7s?
È,ù=yÜÏ9 «!$# 4
Ï9ºs
ÚúïÏe$!$#
ÞOÍhs)ø9$#
ÆÅ3»s9ur
usYò2r& Ĩ$¨Z9$# w tbqßJn=ôèt
ÇÌÉÈ
30.
Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas)
fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada
peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui.
Allah
Ta'ala berfirman, luruskanlah wajahmu
dan senantiasa tetaplah di dalam agamamu, yaitu agama Ibrahim yang
hanif, agama yang ditunjukkan Allah kepadamu, serta disempurnakannya bagimu
dengan sesempurna mungkin. Di sampiing itu, tetap teguhlah kamu di dalam
fitrahmu yang baik. Allah telah menciptakan makhluk di atas fitrah itu. Karena
sesungguhnya Allah ta'ala telah menciptakan manusia dalam keadaan memiliki potensi untuk mengetahui
Nya, mengesakan Nya, dan mengakui bahwa tidak ada tuhan melainkan Dia. Hal ini
telah dikemukakan tatkala menafsirkan ayat "Dan Allah mengambil
kesaksian mereka atas diri mereka sendiri, 'bukankah aku Tuhanmu? Mereka
menjawab, Benar.' " (Al-A'raf: 172)
إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِيَ
حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، فَاجْتَالَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ عَنْ دِينِهِمْ
"Aku telah menciptakan
hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (suci) Kemudian setan-setan menggelincirkan
mereka dari agama mereka"[24]
Secara umum kata fitrah digunakan untuk penciptaan awal.
Firah manusia adalah kejadianya sejak semula atau bawaan sejak lahirnya. Adapun
fitrah dalam pengertian khusus menurut agama (Islam) adalah sebagaimaan
diisyaratkan Allah dalam QS. Al-a’raf: 172 dan dijelaskan pada QS. Ar-Rum: 30
di atas. Yang pertama mengisyaratkan bahwa manusia sejak awal kejadianya telah
membawa fitrah al-tauhid (berketuhanan Yang Maha Esa). Sedang yang kedua
menjelaskan manusia itu pada dasarnya diciptakan dalam keadaan hanif (membawa
potensi agama yang lurus) yang disebut fitratallah, yakni agama yang
berdasarkan pada ma’rifat kepada Allah dan mentauhidkan-Nya.[25]
Firman Allah Ta'ala, "Tidak ada perubahan
pada fitrah Allah." tidak ada perubahan atas Dinul islam yang menjadi
landasan penciptaan manusia.
Imam Ahmad meriwayatkan bahwa
al-Aswad bin Sai'at Taimi berkata,
وغزوت معه فأصبت ظهرا فقتل
الناس يومئذ حتى قتلوا الولدان وقال مرة الذرية فبلغ ذلك رسول الله صلى الله عليه
و سلم فقال ما بال أقوام جاوزهم القتل اليوم حتى قتلوا الذرية فقال رجل يا رسول
الله إنما هم أولاد المشركين فقال ألا أن خياركم أبناء المشركين ثم قال ألا لا
تقتلوا ذرية ألا لا تقتلوا ذرية قال كل نسمة تولد على الفطرة حتى يعرب عنها لسانها
فأبواها يهودانها وينصرانها
"Aku menjumpai Rasulullah
saw., lalu aku berpegang bersama beliau.
Akupun mendapat kemenangan. Pada saat itu orang orang pergi berperang lalu mereka
membunuh anak-anak. Kejadian ini sampai kepada Rasulullah saw., maka beliau
bersabda, 'mengapa orang-orang itu melamapaui batas hingga membunuh anak-anak?'
seseorang berkata, wahai Rasulullah,bukanah anak-anak itu adalah kaum musyrik?
Beliau bersabda, Bukan egitu. Orang-orang yang baik di antara kamu pun semula
merupakan anak kaum musyrik. Kemudian beliau memerintahkan, 'jangan membunuh
anak-anak! Jangan membunuh anak-anak!
Setiap diri dilahirkan dalam keadaan fitrah, sehinngga lisannya menyimpang dari
fitrah itu maka kedua orang tuanyalah
yang menjadikannya yahudi dan nasrani" (HR.Ahmad)
Firman
Allah ta'ala, "Itulah agama yang lurus" Berpegang teguh kepada
syariat dan fitrah yang selamat merupakan agama yang teguh dan lurus "Namun
kebanyakan manusia tidak mengetahui" agama itu. Penggalan ini seperti
firman Allah ta'ala, "Dan mayoritas manusia tidaklah beriman, walaupun
kamu sangat menginginkannya."[26]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam Surat Al-Baqarah ayat
286 dijelaskan bahwa Allah Zat yang Maha Luas dan Maha Pemurah, sebagaimana Dia
telah meluaskan Potensi Manusia dengan berbagai masalah yang dihadapi manusia
serta memberikan kemudahan kepada manusia atas segala masalah yang
diturunkan-Nya yakni Allah mengetahui batas kemampuan manusia secara rinci
antara satu dengan yang lainya di seluruh belahan dunia, lalu Allah menurunkan
masalah antara satu dengan yang lainnya sesuai dengan takaran-takaran yang di
mampui manusia.
Dalam Surat Ali imran Ayat 14 Allah menjadikan manusia
mempunyai kesenangan serta memberitahukan tentang perkara-perkara kesenangan di
Dunia, jikalau mereka menggunakan kesenangannya sesuai dengan perintah-Nya dan
menjauhi Larangan-Nya maka dia akan mendapatkan tempat kembali yang baik
(Surga).
Dalam Surat
Ar-Rum Ayat 20 Allah menjelaskan bagaimana proses atau tahapan munculnya
manusia yakni dari tanah, kemudian dari air yang hina (mani), kemudian
berevolusi menjadi segiumpal darah, menjadi segumpal daging, dan menjadi tulang
yang kemudian tulang-tulang itu dibunngkus dengan daging, kemudian ditiupkan ke
dalamnya ruh sehingga dia menjadi makhluk yang dapat mendengar dan melihat.
Kemudian dia lahir sebagai makhluk kecil yang lemah. Kemudian kekuatannya
menjadi sempurna sehingga dia dapat membangun kota, benteng, dan merambah di
berbagai wilayah bumi baik di daratan maupun di lautan dalam rangka mencari
rezeki. Dia memiliki pemahaman, pikiran dan ilmu pengetahuan mengenai persoalan
dunia dan Akhirat. Maka Mahasuci Yang
menakdirkan, memperjalankan, dan memungkikan mereka bekerja dalam berbagai
bentuk mata pencaharian. Diantara mereka terdapat perbedaan daalam hal postur,
ilmu pengetahuan, kelapangan, dan kesulitan. Lalu mereka bertebaran dimuka
bumi.
Dalam Surat Ar-Rum Ayat 30
Allah mengingatkan manusia agar selalu di jalan agama yang benar yakni agama
Ibrahim yang hanif, lalu Allah juga memberikan pengetahuan pada manusia bahwa
terdapat fitrah dalam diri manusia. Secara umum kata fitrah digunakan untuk penciptaan awal. Fitrah manusia
adalah kejadianya sejak semula atau bawaan sejak lahirnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abi Hatim Arrazi, Ibnu. tafsir ibn abi hatim juz 2, (Maktabah
al’ashriyah, 327H).
Baidan, Nashruddin. Tafsir Maudhu’i, (Yogyakarta:
pustaka pelajar, 2001).
http://buntexz.blogspot.com diakses tanggal 12 maret 2014, pukul 07.27.
Maktabah Syamilah, Tafsir Sam’ani Juz 1
Nasib Ar-Rifa’i, Muhamad. RingkasanTafsir
Ibnu Katsir Jilid 1, terj, Syihabuddin, (Depok; Gema Insani, 2006).
Nasib Ar-Rifa’i, Muhamad. RingkasanTafsir
Ibnu Katsir Jilid 3, terj, Syihabbudin,
(Depok; Gema Insani, 2006).
Qurais Shihab, Muhammad. Wawasan Al-Quran;
Tafsir Maudhu’i atas pelbagai persoalan umat, (Bandung; Mizan Pustaka,
2007).
Tafsir Sulaiman Bin Makotil, Tafsir
Makotil juz 1 (Beirut; Dar Alkitab ‘ulumiah, 2003), h. 154
Warson Munawwir, Ahmad. Kamus
Al-Munawwwir, (Surabaya; pustaka progresif, 1997).
[1]
Muhammad Qurais Shihab, Wawasan
Al-Quran; Tafsir Maudhu’i atas pelbagai persoalan umat, (Bandung; Mizan
Pustaka, 2007), h. 278.
[5]
Maktabah Syamilah,
Tafsir Sam’ani Juz 1, h.288 قوله تعالى :
( لا يكلف الله نفسا إلا وسعها ) أي : طاقتها .
[8]
Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 1, terj, Syihabuddin,
(Depok; Gema Insani, 2006), h. 473.
[14] Ibid., h. 113
[16] Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 1, h.
492-493.
[20]
Muhamad Nasib Ar-Rifa’i, RingkasanTafsir Ibnu Katsir Jilid 3, terj,
Syihabbudin, (Depok; Gema Insani, 2006),
h. 758-759
[21]
Nashruddin Baidan, Tafsir Maudhu’i,
(Yogyakarta: pustaka pelajar, 2001), h. 4-5.
Langganan:
Komentar (Atom)