Jumat, 10 Maret 2017

SUPERSEMAR DALAM PERCATURAN POLITIK


Siapa yang mengira bahwa sekitar 51 tahun yang lalu telah terjadi sejarah menarik. Tepat pada tanggal 11 Maret 1966 Presiden Soekarno memberikan mandat kepada Suharto yang kemudian disebut sebagai Supersemar. Supersemar banyak yang menyisakan misteri yang hingga sekarang masih belum terungkap kebenaranya. Mereka, para pelaku sejarah menceritakan menceritakan asal-usul surat perintah dengan versi masing-masing. Tentu saja dengan ditunggangi kepentingan masing-masing pula. Berbagai improvisasi terdengar bising semua itu dipicu oleh Raibnya naskah asli supersemar sebagai dokumen sejarah yang sangat penting dalam negeri ini.
Kendati masih menjadi tanda Tanya besar, sulit dipungkiri supersemar merupakan legitimasi paling awal pada pemerintah orde baru yang kemudian berkuasa selama 32 tahun. Dengan memanfaatkan supersemar sebagai titik tolak strategi oportunistik jendral Suharto yang pada akhirnya BungKarno berhasil dilucutinya.
Dalam buku biografi Suharto yang berjudul “Tindakan Saya” ia hanya menuliskan perintah dikeluarkan saat Negara keadaan gawat, dimana integritas presiden, ABRI, dan rakyat sedang berada dalam bahaya sedangkan keamanan, ketertiban, dan pemerintahan berada dalam keadaan berantakan. Namun tatkala dipersoalkan apakah surat perintah itu semata-mata sebagai instruksi presiden atau suatu pemindahan eksekutif secara terbatas? Ketidak mampuan Suharto menjelaskan masalah ini makin membuat bertanya-tanya. Disisi lain bukan tidak mungkin Suharto mencoba menutupi kejadian yang sebenarnya dengan retorikanya.

Permainan Catur Suharto
Penggulingan kekuasaan Sukarno berjalan secara pelan-pelan dengan rentang waktu 2 tahun. Diantara tahun 1965-1967 Suharto mendapatkan kemenangan kecil dengan memainkan pion dan perwira yang kemudian pada akhirnya berhasil men-skak-mat Sukarno.
Selain skak-mat terhadap Bung Karno, strategi skak-mat juga diterapkan Suharto kepada para tokoh pembangkang diantaranya para aktivis mahasiswa dan pers pembela demokrasi dengan mengurungnya dalam jeruji besi karena berbeda pendapat dengan pemerintah ORDE BARU.
Babak demi babak pertandingan catur Suharto melawan BungKarno berhasil dimenangkan Suharto dengan strategi militernya. Para jendral AD dibunuh serentak tanggal 1 Oktober, dalam waktu yang sama juga Menpangad Jend A. Yani gugur dan ditunjukilah Suharto sebagai pemimpin AD dan tanpa alasan yang jelas Pranoto Reksosamudro tidak diijinkan Suharto untuk memenuhi panggilan Presiden BungKarno di Bogor dan kemudian Pranoto Reksosamudro diamankan dan dihilangkan dari pentas politik. Suharto-pun terus mendapatkan kenaikan jabatan demi jabatan.
Provokasi dan Terror PKI yang merajalela kala itu, menjadikan keresahan Rakyat dan kemudian Suharto memanfaatkan sebagai ala untuk menekan Presiden Sukarno. Dengan Supersemar Suharto melakukan aksi yang populer dimata rakyat yakni pembubaran PKI, dan dimanfaatkan untuk pembantaian yang sangat bertentangan dengan HAM.
Setelah munculnya supersemar pijakan untuk membubarkan PKI, terciumlah kecurigaan Sukarno terhadap  Suharto sebab telah melenceng dari perintah supersemar. Namun, sudah terlambat Supersemar dianggap sebagai pengalihan kepala eksekutif pemerintah mandataris yang berkuasa mengangkat menteri-menteri sehingga pada tanggal 16 maret BungKarno mengklarifikasinya. Dua hari setelah itu BungKarno dikejutkan dengan manuver Suharto dengan menangkap menteri pro Pemerintahan BungKarno sehingga pada  Juni MPRS bersidang kemudian mencabut gelar Presiden seumur hidup bagi Sukarno. Kejadian ini terus dimanfaatkan Sukarno untuk membentuk kabinet dan membersihkan sisa orang-orang Bung Karno.
Kecurigaan BungKarno akhirnya diumumkan pada tanggal 12 Januari 1967, BungKarno menyampaikan secara tertulis pelengkap Nawaksara, dan memberikan kode bahwa peristiwa G-30S/PKI disebabkan oleh keblingernya pimpinan PKI, liciknya Nekolim, dan kenyataan adanya orang-orang aneh. Dan sampai pada tanggal 7 Maret MPRS bersidang dan memutuskan mencabut mandat dari Presiden Sukarno dan mengalihkanya kepada Suharto, dengan demikian Suharto berhasil menjadi Pejabat Presiden.

Kejanggalan
Kejanggalan-kejanggalan dibalik peristiwa supersemar sangat banyak. Diantaranya adalah naskah Asli Supersemar. Naskah yang sangat penting untuk menguak sejarah itu hilang dan muncul dalam beberapa versi yang berbeda. Tidak mungkin selembar naskah yang diberikan kemudian muncul beberapa lembar dengan isi dan redaksi yang berbeda pula.
Kejanggalan terjadi saat penumpasan Jenderal-Jenderal AD oleh PKI. Tentu saja Suharto menjadi salah satu orang yang paling berbahaya bagi PKI namun justru Penumpasan bahkan ancaman PKI terhadap Suharto tidak pernah terjadi.
Perintah BungKarno kepada Suharto untuk pembubaran PKI dibarengi dengan pembantaian yang bertentangan dengan HAM. Namun, beberapa aktivis mahasiswa dan pers kontra terhadap Suharto turut dikurung dan tidak sedikit nyawa juga dibantai.
Keberadaan Pranoto Reksosamudro dilarang oleh Suharto menghadap Presiden Sukarno untuk menerima jabatan Care Taker Kepemimpinan AD juga terdapat kejanggalan. Setelah pelarangan terhadap Pranoto, ia sebagai salah satu pesaing Suharto sebagai Menpangad tiba-tiba hilang dari pentas politik. Selain itu keberadaan A.H. Nasution sebagai kandidat pengganti Bung Karno hanya diangkat menjadi Ketua MPRS.

Pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari saat terjadi penculikan dan pembunuhan para jenderal AD serta gugurnya A. Yani masih terjadi tanda Tanya besar dimana posisi politik Suharto ketika G-30S/PKI.

Senin, 27 Februari 2017

TAK BERHENTI MENGETUK PINTU

           


Semakin terang cahaya lampu, membutuhkan energi yang semakin tinggi pula. Mungkin itu mewakili tokoh pejuang tangguh, Harland Sanders. Di usia yang tak lagi muda setelah pensiun Kolonel Harland Sanders, pria 65 tahun ini mempunyai sedikit barang berharga diantaranya, sebuah Caddie roadster tua, cek pension bulanan sebesar $105, dan selembar resep ayam.

            Menyadari diusianya tidak akan bisa hidup dengan mengandalkan uang pensiunnya, dia mencari keuntungannya dengan membawa resep ayamnya berkeliling ke para pemilik restoran berharap mendapatkan uang meski hanya 5 sen per ayam yang terjual. Pemilik restoran yang pertama didatangi langsung menolaknya. Dilanjut lagi dengan berkeliling menggunakan van-nya, kedua kalinya ditolak juga. Begitupun ketiga, berlanjut terus menerus mengetuk pintu restoran,

            Kenyataanya, 1008 restoran yang ditawarkan oleh Sanders berakhir dengan penolakan. Meskipun demikian dia dengan gigihnya terus berusaha sambil berkeliling Amerika Serikat dan tidur di mobil untuk menghemat uang. Hasilnya, prospek yang ke 1009 adalah yang pertama memberikan jawaban “Ya”.

            Setelah dua tahun menawarkan, dia hanya bisa mendapatkan 5 restoran saja. Meskipun demikian, dia sangat YAKIN bahwa resep ayamnya sangat luar biasa yang suatu hari idenya akan digemari dan terus berUSAHA sekuat tenaga.

            Tentunya Anda tahu bagaimana ending dari ceritanya. Resep ayamnya benar-benar diminati banyak orang. SAMPAI tahun 1963 Harland Sanders berhasil mendapatkan 600 restoran di seluruh penjuru negeri yang menjual resep rahasia Kentucky Fried Chicken.
            Pada 1964. Resepnya di takeover oleh John Brown, yang kemudian menjadi Gubernur Kentucky. Walaupun transaksi ini menjadikanya multi-milyuner Sanders tetap mempromosikan KFC sampai dia meninggal pada 1990.

            Cerita tersebut mengajarkan pelajaran penting untuk tidak menyerah. Pada masa mudanya Kolonel Sanders terlibat beberapa usaha lain tetapi tak satupun yang berhasil. Dia pernah mengelola sebuah pom bensin ketika berusia 30 tahun. Dia juga pernah membuka restoran ketika berumur 40 tahun, dan terus mengalami kegagalan di kedua usaha ini. Pada usia yang ke-65, Harland Sanders berkeyakinan bahwa ide ayamnya adalah ide yang benar. Dia tidak mau menyerah untuk ini, walaupun harus mengalami banyak penolakan.


            Dia tahu jika tetap mengetuk pintu, pada akhirnya aka nada seorang yang mempersilahkan masuk.Maka terus dan terus mengetuk pintu hingga ada yang membukakan.

Minggu, 24 April 2016

Lestarikan Delman, Transportasi Langka di Tulungagung

Lestarikan Delman, Transportasi Langka di Tulungagung

Tulungagung News - Minggu (24/4), delman menjadi pilihan transportasi hiburan di alun-alun Tulungagung pada hari libur. Keberadaanya yang langka menjadikan para pengunjung cukup antusias untuk berfoto-foto dan berkeliling mengitari taman alun-alun Tulungagung.

Kendaraan tradisional tersebut tak disangka masih mampu bertahan di tengah ramainya ragam kendaraan modern semacam moto sport, mobil listrik, pesawat udara, dan sebagainya.

Meskipun delman kini berubah fungsi dari alat transportasi utama menjadi transportasi hiburan, namun keberadaanya patut untuk dilestarikan, sebab terdapat hal menarik dari delman dibanding dengan alat transportasi lain.

Yakni, transportasi tradisional tersebut bebas polusi udara. Ungkap Joni, salah seorang kusir.“Keberadaan delman yang ramah lingkungan bebas dari polusi perlu untuk dilestarikan,” katanya.

Selain itu, delman juga berpotensi untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Joni mengakui hal tersebut, dia mengatakan, “Delman ini bisa untuk menyekolahkan kedua anak puteri saya yang masih SD,” ungkapnya. Tentu hal ini membuktikan delman bisa menambah masukan bagi pribadi maupun keluarga kusir.

Delman juga bisa digunakan sebagai bentuk pelestarian budaya. Dikutip dari Sumarno selaku penumpang delman mengatakan bahwa seharusnya Tulungagung ada transportasi seperti ini untuk melestarikannya supaya anak cucu kita tidak hanya tahu lagu pak delman tetapi juga tahu bentuk dan cara mengendalikan delman.

Namun Suparno salah seorang pengunjung alun-alun Tulungagung mengungkapkan bahwa, keberadaan delman sebenarnya cukup baik tapi saat ini transportasi dituntut mobilitas yang lebih cepat. Itulah tuntutan yang dihadapi masyarakat dalam menyesuaikan terhadap pekerjaan dan tuntutan sosial.

 (Nawawi)

Selasa, 19 April 2016

REKLAMASI UNTUK SIAPA

REKLAMASI UNTUK SIAPA?
MUCHAMAD NAWAWI KETUA BIDANG PPPA HMI KOMISARIAT INSAN CITA TULUNGAGUNG



“Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana.” Pramodya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pertengahan April, Indonesia digemparkan dengan kebijakan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama untuk mereklamasi teluk pantai di Jakarta. Reklamasi adalah usaha memperluas lahan yang tidak aktif menjadi suatu lahan yang yang bisa dimanfaatkan secara aktif.
Kebijakan tersebut sempat menjadi kegaduhan publik.. Pasalnya pengadaan Reklamasi dinilai hanya menguntungkan sebelah pihak serta merugikan rakyat kecil dan lingkungan sekitar.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah [Bappeda] Provinsi DKI Jakarta, Tuty Kusumawati telah diusut mendapatkan kontribusi 15 persen dari nilai jual obyek pajak [NJOP], 15 persen tersebut masih bisa dikali luas lahan untuk dijual. Selain itu ada pula 5 persen konversi lahan yang diberikan sebagai laba kepada pemerintah provinsi DKI Jakarta. Hal itu juga sudah dikonfirmasi oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Djahaya Purnama.
Sejauh ini KPK telah menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus dugaan suap pembahasan Raperda Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil [RWZP3K] Provinsi Jakarta dan Raperda tentang Rencana Tata Ruang [RTR] Kawasan Strategis Pantai Jakarta Utara.
Mereka adalah Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Mohamad Sanusi, Personal Assistant PT APL Trinanda Prihantoro, dan Presiden Direktur PT APL AriesmanWidjaja. Sanusi diduga telah menerima suap sebesar Rp 2 Miliar dari Ariesman Widjaja melalui Trinanda.
Dampak reklamasipun sudah mulai dirasakan, mulai berkurangnya hasil tangkapan para nelayan sebaganyak 30 persen, semakin tenggelamnya pulau di daerah sekitar, dan berkurangnya ekosistem bawah laut yang berguna untuk meminimalisir tsunami. Tidak heran para nelayan dan masyarakat ikut menolak dan menghentikan reklamasi merugikan rakyat kecil tersebut.
Sungguh ironis, ditengah berhimpit-himpitnya kehidupan rakyat kecil di Jakarta, kini hasil reklamasi teluk pantai pun siap dimangsa perusahaan-perusahaan kaya bahkan telah diggadang-gadang hak kepemilikan-nya.
Anehnya, meski diketahui adanya kasus-kasus yang melatar belakangi reklamasi. Aktifitas-aktifitasnya pun tidak bisa dihentikan, masyarakat dan beberapa menteri hanya menghasilkan pemberhentian secara sementara.
Dari masalah-masalah tersebut, muncul beberapa pertanyaan penting, reklamasi teluk pantai sebenarnya untuk siapa? untuk penambahan masukan penghasilan Negara? untuk pemerintah DKI Jakarta? untuk orang kaya yang mampu membeli-nya? atau untuk rakyat jelata?

Senin, 11 April 2016

LAPAS TEMPAT BINAAN, BUKAN KONTRAKAN GRATIS

LAPAS TEMPAT BINAAN, BUKAN KONTRAKAN GRATIS
[Sebuah Tuntutan Untuk Meningkatkan Keamanan Lapas Tulungagung]
Oleh : Muchamad Nawawi [Ketua Bidang PPPA Komisariat Insan Cita, HMI Tulungagung]



Kita Semua Harus menerima kenyataan, Tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru maka ‘kemajuan’ sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.” Pramoedya Ananta Toer.

Senin, [4/11]. Kekecewaan masyarakat Tulungagung kembali menguap. Lagi-lagi persoalan kejadian di Lapas Tulungagung. Sejumlah barang terlarang ditemukan dalam ruang tahanan Lapas Tulungagung. Lapas yang notabene sudah dijaga kini kembali kebobolan dengan masuknya obat-obatan terlarang. Kejadian yang sering terulang tersebut menjadikan kejanggalan yang amat serius dan perlu untuk ditindak lanjuti.
Ruang yang digunakan tempat binaan kini dirubah jadi rumah kontrakan, itulah kehebatan narapidana Lapas Tulungagung. Bagaimana tidak, beberapa kejanggalan dengan ditemukannya sejumlah barang terlarang ditempat Lapas turut menjadikan surga bagi narapidana. Tak tanggung-tanggung barang seperti Narkotika, alat kontrasepsi, korek api, cemeti, paku, alat cukur, palu, obeng, kabel, handhone, dan bahkan wifi pun ada dalam ruang tahanan.
Pengakuan dari beberapa mantan penghuni Lapas Tulungagung mengungkapkan bahwa, lemahnya pengamanan membuat siapapun bisa masuk menemui narapidana dalam Lapas tanpa ada kesulitan yang berarti.
Kejadian-kejadian serupa yang kerap terjadi membuat curiga dari masyarakat, hal yang seharusnya menjadi sebuah PR justru menjadi tradisi yang terus berlanjut. Keberadaan para petugas Lapas yang selalu kecolongan dipertanyakan profesionalitasnya. Apakah petugas turut mengamankan atau bahkan menjadi kawan para narapidana.
Sekretaris Jenderal Forum Pemerhati Pemasyarakatan, Dindin Sudirman pernah mengatakan, Setidaknya ada beberapa syarat mutlak untuk menjadi seorang pegawai Lembaga Pemasyarakatan [Lapas]. Kata Dindin, “Seorang petugas Lapas harus mempunyai jiwa professional.”
Untuk mewujudkan tujuan, fungsi, & sasaran pemasyarakatan setidaknya harus lebih meningkatkan profesionalitas terutama dalam hal keamanan dan pengamanan. Sekali lagi, Profesional adalah tuntutan diri, bukan menuntut atau menyalahkan orang lain. Lapas adalah tempat pembinaan narapidana agar mengakui kesalahan yang dilakukan bukan sebagai tempat keberlangsungan kesalahan. Meskipun Indonesia adalah tanah surga namun jangan sampai Lapas dijadikan surga dunia bagi para narapidana.

Sabtu, 09 April 2016

HMI Toeloengagoeng Sinau

HMI TOELOENGAGOENG SINAU
Oleh: Muchamad Nawawi


Sabtu [9/4], Himpunan Mahasiswa Islam [HMI] Komisariat Insan Cita Tulungagung mengadakan kunjungan di markas Radio Perkasa fm Radio Juara Nasional.
            Ketua Bidang PPPA HMI Komisariat Insan Cita [Awiando] menjelaskan bahwa, kunjungan ke Markas Radio fm ini sangat penting untuk memetik pelajaran bagaimana kinerja, Ilmu, dan Trik dalam membangun Profesionalitas  radio dari kota kecil menuju tingkat Nasional.
            Ketika berkunjung ke markas Radio Perkasa fm kader HMI Komisariat Insan Cita didampingi oleh HMI Cabang Tulungagung, HMI Komisariat Jendral Soedirman, Formasta, serta beberapa Mahasiswa dari IAIN Tulungagung, STKIP Tulungagung, dan ITS Surabaya yang dipimpin langsung oleh Domisioner Ketua Bidang KPP Komisariat Insan Cita, Anisatul Khusna.
            Sambutan Hangat dari Ketua Pelaksana, Ketua Umum Cabang Kohati Tulungagung, dan Staff dari pihak Radio ikut meramaikan acara pada pagi ini. Akibatnya para audiens pun dibawa larut oleh suasana.
            Kunjungan spesial tersebut cukup menarik perhatian, selain penasaran dengan kinerja, para Staff, dan fasilitas Radio Tingkat Nasional ini, para pengunjung juga dihibur oleh penampilan-penampilan yahud dari para pemateri sehingga suasana menjadi menyenangkan nan gembira.