Senin, 11 April 2016

LAPAS TEMPAT BINAAN, BUKAN KONTRAKAN GRATIS

LAPAS TEMPAT BINAAN, BUKAN KONTRAKAN GRATIS
[Sebuah Tuntutan Untuk Meningkatkan Keamanan Lapas Tulungagung]
Oleh : Muchamad Nawawi [Ketua Bidang PPPA Komisariat Insan Cita, HMI Tulungagung]



Kita Semua Harus menerima kenyataan, Tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru maka ‘kemajuan’ sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.” Pramoedya Ananta Toer.

Senin, [4/11]. Kekecewaan masyarakat Tulungagung kembali menguap. Lagi-lagi persoalan kejadian di Lapas Tulungagung. Sejumlah barang terlarang ditemukan dalam ruang tahanan Lapas Tulungagung. Lapas yang notabene sudah dijaga kini kembali kebobolan dengan masuknya obat-obatan terlarang. Kejadian yang sering terulang tersebut menjadikan kejanggalan yang amat serius dan perlu untuk ditindak lanjuti.
Ruang yang digunakan tempat binaan kini dirubah jadi rumah kontrakan, itulah kehebatan narapidana Lapas Tulungagung. Bagaimana tidak, beberapa kejanggalan dengan ditemukannya sejumlah barang terlarang ditempat Lapas turut menjadikan surga bagi narapidana. Tak tanggung-tanggung barang seperti Narkotika, alat kontrasepsi, korek api, cemeti, paku, alat cukur, palu, obeng, kabel, handhone, dan bahkan wifi pun ada dalam ruang tahanan.
Pengakuan dari beberapa mantan penghuni Lapas Tulungagung mengungkapkan bahwa, lemahnya pengamanan membuat siapapun bisa masuk menemui narapidana dalam Lapas tanpa ada kesulitan yang berarti.
Kejadian-kejadian serupa yang kerap terjadi membuat curiga dari masyarakat, hal yang seharusnya menjadi sebuah PR justru menjadi tradisi yang terus berlanjut. Keberadaan para petugas Lapas yang selalu kecolongan dipertanyakan profesionalitasnya. Apakah petugas turut mengamankan atau bahkan menjadi kawan para narapidana.
Sekretaris Jenderal Forum Pemerhati Pemasyarakatan, Dindin Sudirman pernah mengatakan, Setidaknya ada beberapa syarat mutlak untuk menjadi seorang pegawai Lembaga Pemasyarakatan [Lapas]. Kata Dindin, “Seorang petugas Lapas harus mempunyai jiwa professional.”
Untuk mewujudkan tujuan, fungsi, & sasaran pemasyarakatan setidaknya harus lebih meningkatkan profesionalitas terutama dalam hal keamanan dan pengamanan. Sekali lagi, Profesional adalah tuntutan diri, bukan menuntut atau menyalahkan orang lain. Lapas adalah tempat pembinaan narapidana agar mengakui kesalahan yang dilakukan bukan sebagai tempat keberlangsungan kesalahan. Meskipun Indonesia adalah tanah surga namun jangan sampai Lapas dijadikan surga dunia bagi para narapidana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar