Minggu, 24 April 2016

Lestarikan Delman, Transportasi Langka di Tulungagung

Lestarikan Delman, Transportasi Langka di Tulungagung

Tulungagung News - Minggu (24/4), delman menjadi pilihan transportasi hiburan di alun-alun Tulungagung pada hari libur. Keberadaanya yang langka menjadikan para pengunjung cukup antusias untuk berfoto-foto dan berkeliling mengitari taman alun-alun Tulungagung.

Kendaraan tradisional tersebut tak disangka masih mampu bertahan di tengah ramainya ragam kendaraan modern semacam moto sport, mobil listrik, pesawat udara, dan sebagainya.

Meskipun delman kini berubah fungsi dari alat transportasi utama menjadi transportasi hiburan, namun keberadaanya patut untuk dilestarikan, sebab terdapat hal menarik dari delman dibanding dengan alat transportasi lain.

Yakni, transportasi tradisional tersebut bebas polusi udara. Ungkap Joni, salah seorang kusir.“Keberadaan delman yang ramah lingkungan bebas dari polusi perlu untuk dilestarikan,” katanya.

Selain itu, delman juga berpotensi untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Joni mengakui hal tersebut, dia mengatakan, “Delman ini bisa untuk menyekolahkan kedua anak puteri saya yang masih SD,” ungkapnya. Tentu hal ini membuktikan delman bisa menambah masukan bagi pribadi maupun keluarga kusir.

Delman juga bisa digunakan sebagai bentuk pelestarian budaya. Dikutip dari Sumarno selaku penumpang delman mengatakan bahwa seharusnya Tulungagung ada transportasi seperti ini untuk melestarikannya supaya anak cucu kita tidak hanya tahu lagu pak delman tetapi juga tahu bentuk dan cara mengendalikan delman.

Namun Suparno salah seorang pengunjung alun-alun Tulungagung mengungkapkan bahwa, keberadaan delman sebenarnya cukup baik tapi saat ini transportasi dituntut mobilitas yang lebih cepat. Itulah tuntutan yang dihadapi masyarakat dalam menyesuaikan terhadap pekerjaan dan tuntutan sosial.

 (Nawawi)

Selasa, 19 April 2016

REKLAMASI UNTUK SIAPA

REKLAMASI UNTUK SIAPA?
MUCHAMAD NAWAWI KETUA BIDANG PPPA HMI KOMISARIAT INSAN CITA TULUNGAGUNG



“Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana.” Pramodya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pertengahan April, Indonesia digemparkan dengan kebijakan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama untuk mereklamasi teluk pantai di Jakarta. Reklamasi adalah usaha memperluas lahan yang tidak aktif menjadi suatu lahan yang yang bisa dimanfaatkan secara aktif.
Kebijakan tersebut sempat menjadi kegaduhan publik.. Pasalnya pengadaan Reklamasi dinilai hanya menguntungkan sebelah pihak serta merugikan rakyat kecil dan lingkungan sekitar.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah [Bappeda] Provinsi DKI Jakarta, Tuty Kusumawati telah diusut mendapatkan kontribusi 15 persen dari nilai jual obyek pajak [NJOP], 15 persen tersebut masih bisa dikali luas lahan untuk dijual. Selain itu ada pula 5 persen konversi lahan yang diberikan sebagai laba kepada pemerintah provinsi DKI Jakarta. Hal itu juga sudah dikonfirmasi oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Djahaya Purnama.
Sejauh ini KPK telah menetapkan tiga orang tersangka dalam kasus dugaan suap pembahasan Raperda Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil [RWZP3K] Provinsi Jakarta dan Raperda tentang Rencana Tata Ruang [RTR] Kawasan Strategis Pantai Jakarta Utara.
Mereka adalah Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Mohamad Sanusi, Personal Assistant PT APL Trinanda Prihantoro, dan Presiden Direktur PT APL AriesmanWidjaja. Sanusi diduga telah menerima suap sebesar Rp 2 Miliar dari Ariesman Widjaja melalui Trinanda.
Dampak reklamasipun sudah mulai dirasakan, mulai berkurangnya hasil tangkapan para nelayan sebaganyak 30 persen, semakin tenggelamnya pulau di daerah sekitar, dan berkurangnya ekosistem bawah laut yang berguna untuk meminimalisir tsunami. Tidak heran para nelayan dan masyarakat ikut menolak dan menghentikan reklamasi merugikan rakyat kecil tersebut.
Sungguh ironis, ditengah berhimpit-himpitnya kehidupan rakyat kecil di Jakarta, kini hasil reklamasi teluk pantai pun siap dimangsa perusahaan-perusahaan kaya bahkan telah diggadang-gadang hak kepemilikan-nya.
Anehnya, meski diketahui adanya kasus-kasus yang melatar belakangi reklamasi. Aktifitas-aktifitasnya pun tidak bisa dihentikan, masyarakat dan beberapa menteri hanya menghasilkan pemberhentian secara sementara.
Dari masalah-masalah tersebut, muncul beberapa pertanyaan penting, reklamasi teluk pantai sebenarnya untuk siapa? untuk penambahan masukan penghasilan Negara? untuk pemerintah DKI Jakarta? untuk orang kaya yang mampu membeli-nya? atau untuk rakyat jelata?

Senin, 11 April 2016

LAPAS TEMPAT BINAAN, BUKAN KONTRAKAN GRATIS

LAPAS TEMPAT BINAAN, BUKAN KONTRAKAN GRATIS
[Sebuah Tuntutan Untuk Meningkatkan Keamanan Lapas Tulungagung]
Oleh : Muchamad Nawawi [Ketua Bidang PPPA Komisariat Insan Cita, HMI Tulungagung]



Kita Semua Harus menerima kenyataan, Tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru maka ‘kemajuan’ sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.” Pramoedya Ananta Toer.

Senin, [4/11]. Kekecewaan masyarakat Tulungagung kembali menguap. Lagi-lagi persoalan kejadian di Lapas Tulungagung. Sejumlah barang terlarang ditemukan dalam ruang tahanan Lapas Tulungagung. Lapas yang notabene sudah dijaga kini kembali kebobolan dengan masuknya obat-obatan terlarang. Kejadian yang sering terulang tersebut menjadikan kejanggalan yang amat serius dan perlu untuk ditindak lanjuti.
Ruang yang digunakan tempat binaan kini dirubah jadi rumah kontrakan, itulah kehebatan narapidana Lapas Tulungagung. Bagaimana tidak, beberapa kejanggalan dengan ditemukannya sejumlah barang terlarang ditempat Lapas turut menjadikan surga bagi narapidana. Tak tanggung-tanggung barang seperti Narkotika, alat kontrasepsi, korek api, cemeti, paku, alat cukur, palu, obeng, kabel, handhone, dan bahkan wifi pun ada dalam ruang tahanan.
Pengakuan dari beberapa mantan penghuni Lapas Tulungagung mengungkapkan bahwa, lemahnya pengamanan membuat siapapun bisa masuk menemui narapidana dalam Lapas tanpa ada kesulitan yang berarti.
Kejadian-kejadian serupa yang kerap terjadi membuat curiga dari masyarakat, hal yang seharusnya menjadi sebuah PR justru menjadi tradisi yang terus berlanjut. Keberadaan para petugas Lapas yang selalu kecolongan dipertanyakan profesionalitasnya. Apakah petugas turut mengamankan atau bahkan menjadi kawan para narapidana.
Sekretaris Jenderal Forum Pemerhati Pemasyarakatan, Dindin Sudirman pernah mengatakan, Setidaknya ada beberapa syarat mutlak untuk menjadi seorang pegawai Lembaga Pemasyarakatan [Lapas]. Kata Dindin, “Seorang petugas Lapas harus mempunyai jiwa professional.”
Untuk mewujudkan tujuan, fungsi, & sasaran pemasyarakatan setidaknya harus lebih meningkatkan profesionalitas terutama dalam hal keamanan dan pengamanan. Sekali lagi, Profesional adalah tuntutan diri, bukan menuntut atau menyalahkan orang lain. Lapas adalah tempat pembinaan narapidana agar mengakui kesalahan yang dilakukan bukan sebagai tempat keberlangsungan kesalahan. Meskipun Indonesia adalah tanah surga namun jangan sampai Lapas dijadikan surga dunia bagi para narapidana.

Sabtu, 09 April 2016

HMI Toeloengagoeng Sinau

HMI TOELOENGAGOENG SINAU
Oleh: Muchamad Nawawi


Sabtu [9/4], Himpunan Mahasiswa Islam [HMI] Komisariat Insan Cita Tulungagung mengadakan kunjungan di markas Radio Perkasa fm Radio Juara Nasional.
            Ketua Bidang PPPA HMI Komisariat Insan Cita [Awiando] menjelaskan bahwa, kunjungan ke Markas Radio fm ini sangat penting untuk memetik pelajaran bagaimana kinerja, Ilmu, dan Trik dalam membangun Profesionalitas  radio dari kota kecil menuju tingkat Nasional.
            Ketika berkunjung ke markas Radio Perkasa fm kader HMI Komisariat Insan Cita didampingi oleh HMI Cabang Tulungagung, HMI Komisariat Jendral Soedirman, Formasta, serta beberapa Mahasiswa dari IAIN Tulungagung, STKIP Tulungagung, dan ITS Surabaya yang dipimpin langsung oleh Domisioner Ketua Bidang KPP Komisariat Insan Cita, Anisatul Khusna.
            Sambutan Hangat dari Ketua Pelaksana, Ketua Umum Cabang Kohati Tulungagung, dan Staff dari pihak Radio ikut meramaikan acara pada pagi ini. Akibatnya para audiens pun dibawa larut oleh suasana.
            Kunjungan spesial tersebut cukup menarik perhatian, selain penasaran dengan kinerja, para Staff, dan fasilitas Radio Tingkat Nasional ini, para pengunjung juga dihibur oleh penampilan-penampilan yahud dari para pemateri sehingga suasana menjadi menyenangkan nan gembira.